Bayern Munchen Juara Bundesliga Lagi, Tapi Jelas Perlu Perombakan

Bayern Munchen berhasil meraih gelar juara Bundesliga untuk tujuh musim secara beruntun setelah menghantam Eintracht Frankfurt di matchday terakhir.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 19 Mei 2019  |  13:52 WIB
Bayern Munchen Juara Bundesliga Lagi, Tapi Jelas Perlu Perombakan
Pelatih Bayern Munchen Niko Kovac berpose bersama trofi juara Bundesliga 2018-2019. - Reuters/Andreas Gebert

Bisnis.com, JAKARTA – Bayern Munchen berhasil meraih gelar juara Bundesliga untuk tujuh musim secara beruntun setelah menghantam Eintracht Frankfurt di matchday terakhir, tetapi ini menjadi upaya paling sulit untuk menggapai juara selama 10 tahun terakhir.

Dengan melihat fakta bahwa pada musim ini Bayern Munchen mesti bertarung hingga laga terakhir untuk memastikan gelar Bundesliga, jelas klub Bavaria tersebut memerlukan perombakan, terlebih lagi dua pemain veteran, Arjen Robben dan Franck Ribery, dipastikan pergi pada akhir musim ini.

Penggemar sepak bola Jerman benar-benar menikmati perburuan gelar ketat antara Bayern Munchen dan Borussia Dortmund, tetapi dengan perolehan 78 poin, itu adalah raihan terendah Munchen dalam tujuh musim terakhir dominasi mereka.

Berlalu sudah hegemoni yang begitu dominan dari Bayern Munchen ketika di bawah arahan pelatih dengan nama besar seperti Jupp Heynckes, Pep Guardiola, dan Carlo Ancelotti ketika mereka sudah mampu menenangi gelar juara pada Maret dengan masih menyisakan sejumlah pertandingan.

Sejalan dengan manajemen Bayern Munchen memutuskan tidak membeli pemain baru pada bursa transfer musim panas tahun lalu, pelatih yang datang pun tidak berbiaya mahal yakni Niko Kovac yang sebelumnya menukangi Frankfurt dan pernah bermain untuk Munchen pada 2001 - 2003.

Meskipun pada akhirnya tampil sebagai juara, penampilan Munchen ibarat rollercoaster pada debut Kovac sebagai pelatih. Kovac sendiri belum dipastikan apakah tetap akan menangani Munchen musim depan.

Munchen sempat mengalami masa sulit di tengah kompetisi yang baru berakhir ini ketika pada akhir tahun lalu mereka tertinggal 6 angka dari Dortmund yang memimpin klasemen sementara hingga paruh musim.

Setelah awal yang solid pada Agustus dan empat kemenangan berturut-turut, mereka kemudian hanya bisa memenangi dua dari delapan pertandingan berikutnya.

Pertahanan mereka bocor, dengan Jerome Boateng dan Mats Hummels jauh dari penampilan terbaik, ditambah dengan serangkaian cedera serius pada juara dunia Corentin Tolisso, Kingsley Coman, dan Arjen Robben menempatkan mereka di belakang Dortmund.

Namun, Kovac secara bertahap menemukan opsi di bek tengah Niklas Suele dan pemain sayap Serge Gnabry untuk mulai bangkit ketika memasuki tahun ini dengan bantuan Joshua Kimmich yang solid dan pencetak gol terbanyak Robert Lewandowski.

Pemain Timnas Jerman Gnabry terbukti sangat penting untuk Munchen, mencetak 10 gol dan memasok lima assist pada musim pertamanya di Munchen setelah musim lalu dipinjamkan ke Hoffenheim, sementara pulihnya Coman dari cedera memberi mereka kecepatan cepat di sayap.

Perombakan jelas diperlukan dengan veteran Ribery, Robben, dan Rafinha hengkang dan beberapa pemain lain kemungkinan akan keluar.

Yang akan pergi bisa juga pelatih, dengan Kovac, 47 tahun dan berasal dari Kroasia, menghabiskan sebagian besar musim di bawah tekanan.

Kalau pun Munchen bisa merebut trofi Piala Jerman (DFB Pokal) dengan mengalahkan RB Leipzig di final pada Minggu (26/5/2019), itu bukan variabel penolong Kovac untuk tak terusir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Dortmund, Bundesliga, Bayern Munchen

Sumber : Reuters

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top