Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Erick Thohir Buka Peluang Indonesia Ikut Bidding Tuan Rumah Piala Dunia 2040

Menteri BUMN yang juga tokoh olahraga nasional Erick Thohir mengatakan kans Indonesia mengikuti bidding tuan rumah Piala Dunia cukup terbuka.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 04 Desember 2022  |  14:45 WIB
Erick Thohir Buka Peluang Indonesia Ikut Bidding Tuan Rumah Piala Dunia 2040
Menteri BUMN Erick Thohir melakukan pertemuan dengan Presiden FIFA Gianni Infantino pada Rabu (5/10 - 2022) di Qatar.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri BUMN yang juga tokoh olahraga nasional Erick Thohir mengatakan kans Indonesia mengikuti bidding tuan rumah Piala Dunia cukup terbuka.

Menurut Erick Thohir, apabila Indonesia ingin mengikuti bidding tuan rumah Piala Dunia maka segalanya harus segera dipersiapkan, terutama pembinaan timnas Indonesia.

Bicara soal sisi anggaran, pria yang juga merupakan Anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) itu mengatakan tak perlu khawatir karena dana pasti tersedia.

Apalagi, Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat dunia pada 2045.

Setelah Piala Dunia 2022 di Qatar, Piala Dunia FIFA 2026 akan digelar di tiga negara yaitu Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Sementara tuan rumah Piala Dunia 2030 baru akan diumumkan oleh FIFA pada 2024. Menurut Erick mungkin terlalu dini juga Indonesia ikut bidding menjadi tuan rumah gelaran tersebut.

"Kesiapan ada. Dana juga ada. Bukan pemborosan, tapi dana ada. Kemarin Pak Jokowi mengajukan Ibu Kota Negara (IKN) bidding tuan rumah Olimpiade 2036. Kita akan mempunyai ibu kota baru, fasilitas yang makin bagus," kata Erick Thohir dilansir dari Antara.

"Ekonomi kita masuk empat terbesar pada 2045. Jadi uangnya ada kok sebenarnya asal jangan dikorupsi. Jadi apabila 2040 Indonesia ikut bidding Piala Dunia bukan tidak mungkin," tutur Erick.

Erick menegaskan meski secara infrastruktur dan dana siap, tapi jika prestasi tim nasional masih jauh maka akan sangat sulit bagi Indonesia untuk maju dan memenangi bidding tuan rumah.

"Sekarang yang paling krusial adalah timnasnya. Kami juga tidak mau menjadi tuan rumah tapi kalah sampai 0-7 di pertandingan pertama," kata mantan Presiden Inter Milan itu.

Erick membahas capaian Jepang dan Korea Selatan sebagai dua tim Asia yang bisa menembus dominasi Eropa dan Amerika Selatan.

Jepang dan Korea Selatan pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 dan saat ini mampu menembus babak 16 besar Piala Dunia 2022.

Erick menilai hasil itu didapat karena pembinaan yang dilakukan secara kontinyu yang membutuhkan waktu 20-30 tahun.

Sementara itu di Indonesia, lanjut Erick, para pemain muda kurang diberi kesempatan berkompetisi di klub karena kalah saing dengan pemain naturalisasi.

"Jepang itu persiapan timnasnya 20-30 tahun. Artinya harus cari rekrut pemain terbaik lalu diberi kesempatan bermain di klub atau sekalian seperti di basket membuat timnas bermain di liga tetapi diisi pemain muda karena mereka harus diberi kompetisi," ucap mantan manajer tim basket Satria Muda itu.

"Dengan ratusan pemain sepak bola lalu bermain di kompetisi, berlatih setelah kompetisi, diberi kesempatan bermain di klub. Ini yang harus kita lakukan. Bagaimana kita mau punya timnas yang bagus, fasilitas lapangan latihan belum maksimal. Kompetisi untuk pemain muda tidak maksimal dan kebanyakan pemain naturalisasi," katanya.

Erick mengatakan dirinya bukan tidak suka dengan pemain naturalisasi. Akan tetapi, Menteri BUMN itu menilai hal tersebut perlu regulasi agar tak menghalangi perkembangan pemain muda Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

piala dunia piala dunia 2022 erick thohir
Editor : Taufan Bara Mukti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top