Akhir Romantisme De Rossi dengan Roma, Sang Pangeran Harus Pergi

Begini perjalanan kisah romantis Daniele De Rossi bersama AS Roma, kapten yang kontraknya tidak diperpanjang oleh manajemen.
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  12:33 WIB
Akhir Romantisme De Rossi dengan Roma, Sang Pangeran Harus Pergi
Daniele de Rossi - Reuters/Alberto Lingria

Bisnis.com, JAKARTA - Daniele De Rossi harus menerima kenyataan manajemen AS Roma enggan memperpanjang kontraknya. Sang Pangeran Ibu kota Italia itu mau tidak mau harus 'angkat kaki' dari Stadion Olimpico setelah laga terakhir Roma melawan Parma pada Minggu (26/05/2019). Ini kisah De Rossi bersama Il Giallarossi selama 18 musim terakhir. 

AS Ostia Mare menjadi klub pertama De Rossi pada awal karirnya sebagai pesepakbola. Dia bergabung ke klub yang kini berlaga di Serie-D itu ketika umur 14 tahun. 

Membela Ostia Mare sekitar 4 tahun dari periode 1997-2000, De Rossi memutuskan hijrah ke AS Roma pada 2001. Di sini, kisah romantisme De Rossi dengan AS Roma dimulai. 

Menariknya, De Rossi mengawali karir di Roma bukan sebagai gelandang seperti saat ini, melainkan sebagai seorang penyerang.

Pelatih Roma saat itu, Fabio Capello, memberikan peluang debut De Rossi pada 10 Oktober 2001. Kala itu, Roma tengah berhadapan dengan klub Belgia Anderlecht di Liga Champion.   

De Rossi masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-71. Namun, sang pangeran gagal membawa Roma merebut tiga poin dalam pertandingan itu, Il Giallarossi ditahan imbang 1-1 oleh Anderlecht. 

Malah, klub ibu kota Italia itu sempat tertinggal 0-1 oleh gol Ivica Mornar pada menit ke-11. Untungnya, Marco Delvecchio membalas lewat golnya di menit ke-52. 

Pada musim 2001-2002, De Rossi hanya mendapatkan kesempatan bermain sebanyak 4 kali. Nasib De Rossi masih lebih berperan menghangatkan kursi cadangan pada musim 2002-2003, dia hanya tampil sebanyak 7 pertandingan. 

Meskipun begitu, aksi De Rossi pada musim keduanya di Roma mulai mencuri perhatian. Pasalnya, dari empat penampilannya di Serie-A musim 2002-2003, dia mencatatkan dua gol. 

Meski belum rutin merumput, aksi De Rossi mulai jadi sorotan berkat 2 gol yang berhasil diceploskannya. Gol perdananya ketika melawan Torino pun cukup membuat decak kagum. 

De Rossi menciptakan gol pertamanya  lewat tendangan jarak jauh dari luar kotak pinalti. Kiper Torino saat itu pun tak kuasa melihat bola tendangan De Rossi merobek jala gawangnya. 

Dari posisi penyerang, De Rossi mulai rutin dipasangkan pada posisi gelandang. Dari posisi itu, nama De Rossi melejit menjadi salah satu pemain muda Italia yang menjanjikan. Apalagi, dia turut berkontribusi mengantarkan Roma ke posisi kedua Serie A musim 2003-2004. Lalu, De Rossi juga mengantarkan AS Roma hingga final Coppa Italia pada 2004 dan 2006. 

Seperti sudah ditakdirkan menjadi pangeran Roma, De Rossi sudah mengenakan ban kapten Serigala Ibu Kota Italia itu pada umur 23 tahun. Saat itu, Roma tengah berhadapan dengan tim Liga Inggris Middlesbrough di Liga Eropa pada 15 Maret 2006. 

Sayangnya, debut kepemimpinan De Rossi sebagai kapten belum mampu meloloskan AS Roma ke perempatfinal Liga Eropa musim 2002-2003. AS Roma memang menang 2-1 melawan Stadion Olimpico, tetapi kemenangan itu tidak cukup mengantarkan ke perempatfinal karena Middlesbrough unggul gol tandang.  

Kejujuran De Rossi

Pada musim 2005-2006, De Rossi pernah dipuji oleh Mauro Bergonzi, wasit yang memimpi pertandingan AS Roma melawan Messina pada 19 Maret 2006. Pasalnya, De Rossi mengakui sebuah kesalahan meskipun sang pengadil lapangan tidak mengetahuinya.

Roma memang sudah unggul 1-0 atas Messina lewat gol Simone Perrota di menit ke-7. Il Gialarossi terus mencari gol kedua, Amantino Mancini gagal melahirkan gol kedua karena tendangannya sedikit melebar dari gawang Marco Storari, kiper Messina saat itu. 

Nah, De Rossi membuka asa gol kedua Roma setelah sundulannya mampu merobek gawang Storari. Namun, De Rossi mengakui ke Bergonzi kalau gol itu tidak sah karena pergerakan bola di arahkan dengan tangannya. 

Hasil akhirnya, Roma tetap memenangkan pertandingan dengan skor 2-1. De Rossi pun digantikan dengan M. Kharja pada menit ke-85 dalam pertandingan tersebut.  

Dari aksinya itu, De Rossi diberikan penghargaan sebagai pemain muda terbaik Serie A pada musim 2005-2006. 

Melekat dengan Julukan Il Capitano Futuro, De Rossi memenuhi takdirnya sebagai Il Capitano pada musim 2017-2018 setelah Francesco Totti pensiun.

Setelah resmi menjadi Kapten Roma, De Rossi pun memberikan kontribusi cukup besar untuk Roma di Liga Champion musim 2017-2018. De Rossi mampu mencuri 1 gol ketika berhadapan dengan Barcelona di perempat final Liga Champion. 

Gol semata wayang itu memang tidak menyelamatkan Roma dari kekalahan di babak perempat final leg pertama melawan Barcelona, tetapi gol itu menjadi tabungan gol tandang yang membuat Il Gialarossi menyingkirkan Blaugrana setelah menang 3-0 di Stadion Olimpico.

De Rossi mencatatkan penampilan ke-600 bersama Roma saat menang 4-0 dari Frosinone pada 26 September 2018. Jumlah ini sekaligus mendapuk pria berambut pirang itu sebagai pemain kedua yang paling banyak bermain untuk Roma.

Selasa (14/5/2019) kemarin, kisah De Rossi bersama Roma sepanjang 18 musim akhirnya harus diakhiri. Dalam konferensi pers, dia mengatakan tidak akan mengubah keputusan yang telah dibuat meski masih merasa belum puas dengan capaiannya selama di Roma.

"Jika saya memiliki tongkat sihir, saya akan menaruh beberapa trofi lagi di lemari, tetapi saya tidak bisa melakukan itu. Selama bertahun-tahun, mungkin saya telah membuat beberapa kesalahan, tetapi itu tidak bisa mengubah apapun," pungkas De Rossi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
as roma, serie a

Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top