Bentuk Timnas yang Kuat, Milla Bicara Filosofi Sepak Bola

Pelatih Timnas Luis Milla mengatakan Indonesia harus memiliki filosofi sepak bola jika ingin mengukir prestasi tertinggi.
Newswire | 31 Maret 2017 22:15 WIB
Luis Milla - Antara

Bisnis.com, TANGERANG - Pelatih Timnas Luis Milla mengatakan Indonesia harus memiliki filosofi sepak bola jika ingin mengukir prestasi tertinggi.

Menurut Milla, filosofi bisa membantu Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) membentuk pemain muda dan pelatih berkualitas di tengah keterbatasan anggaran.

"Harus punya filosofi dan kurikulum yang bisa diterapkan dengan serupa di semua lini, semua kelompok umur di seluruh daerah," ujar Milla dalam diskusi A Night With The Manager di Tangerang, Banten, pada Jumat malam (31/3/2017).

Indonesia, kata mantan pemain Barcelona dan Real Madrid ini, memiliki bakat-bakat alami yang sangat bagus, terutama di sektor gelandang yang dinilainya kreatif. Keunggulan ini yang disarankannya untuk terus dikembangkan.

"Kekuatan Indonesia di pemain tengah dan banyak yang punya akselerasi bagus. Dari sini sebenarnya bisa dibangun sebuah filosofi. Yang kurang mungkin posisi penyerang, tetapi saya rasa sektor itu bisa diperkuat dengan memberikan porsi bermain lebih banyak untuk pesepak bola lokal di klub," ujarnya.

Salah satu contoh yang berhasil menanamkan filosofi, menurut dia, adalah Barcelona. Ini terlihat ketika dia melatih Timnas Spanyol U-19 pada 2008-2010. Saat itu, ada sekitar tujuh pemain Spanyol yang berasal dari tim Barcelona dan mereka menerapkan apa yang didapat dari akademi ke timnas.

"Filosofi Barcelona itu sudah ada sejak setidaknya 30 tahun lalu dan diajarkan terus menerus di akademi. Saya senang melihat pemain timnas dari tim Barcelona datang latihan dan menunjukkan filosofi dan sikap ala tim Katalan," tutur Milla yang memang berkebangsaan Spanyol.

Dalam diskusi itu, Milla menekankan pentingnya pembinaan pemain muda. Di Spanyol, menurut dia, para pemain sudah dilatih sejak usia 5 tahun dan setiap kelompok umur memiliki pelatih dengan kualifikasi berbeda-beda. Namun, dia menyadari pembinaan seperti itu perlu dana sangat besar yang sulit disamai PSSI.

Berkaca dari pembinaan pemain muda Jerman, sejak tahun 2000 Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) membuat keputusan penting usai babak belur di Piala Eropa, yaitu semua klub profesional harus memiliki akademi pemain muda nomor wahid.

Oleh karena tidak semua tim memiliki kemampuan keuangan yang sama, DFB memberi insentif program pengembangan pemain muda senilai 13 juta dolar Amerika Serikat (AS) per tahun.

DFB juga mewajibkan semua akademi pemain muda memiliki staf pelatih yang bekerja secara penuh, lapangan latihan yang baik, departemen kesehatan terintegrasi dan bekerja sama dengan pihak sekolah untuk pendidikan pesepak bola.

Laman DFB melansir bahwa kini memiliki 365 pusat pengembangan pemain muda atau DFB Academy, melibatkan sekitar 1.000 orang pelatih dan sekira 25.000 pesepak bola cilik putra dan putri.

Jerman pun bisa menghasilkan pemain-pemain muda ternama, antara lain Mesut Ozil (bermain di Arsenal), Thomas Muller (Bayern Munchen), Mario Gotze (Borussia Dortmund), Manuel Neuer (Bayern Munchen), dan Julian Draxler (Paris Saint-Germain).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
timnas indonesia

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top