Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

FIFA: 50 Liga sepakbola diincar bandar judi

ZURICH--Geng-geng kriminal yang terorganisir menargetkan sekitar 50 liga sepak bola nasional untuk dipengaruhi dalam pengaturan pertandingan dan semua negara rentan terhadap praktek ini.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Januari 2013  |  21:37 WIB

ZURICH--Geng-geng kriminal yang terorganisir menargetkan sekitar 50 liga sepak bola nasional untuk dipengaruhi dalam pengaturan pertandingan dan semua negara rentan terhadap praktek ini.

Kepala Keamanan FIFA Ralf Mutschke mengatakan seorang terdakwa kasus pengaturan pertandingan telah memberitahukan kepadanya pada suatu pertemuan rahasia, aktifitas itu lebih disukai banyak geng kriminal dibanding perdagangan obat terlarang.

"Saya bertemu seorang pengatur pertandingan, seorang terdakwa pengatur pertandingan, di sini di Zurich dekat dengan kebun binatang, dan ia mengatakan kepada saya bahwa organisasi kriminal sudah menjauhi perdagangan obat terlarang dan terlibat pada pengaturan pertandingan, karena beresiko kecil dan memberikan keuntungan besar," ucapnya, Rabu (16/1/2013).

"Ia mengatakan di depan wajah saya," tambah Mutschke, yang bekerja untuk polisi federal Jerman selama 33 tahun sebelum bergabung dengan FIFA pada 2012.

"Saya akan berkata bahwa sekitar 50 liga nasional di luar Eropa merupakan target bagi organisasi kriminal pada bursa taruhan," tuturnya kepada para pewarta di markas besar FIFA.

Belakangan ini, pengaturan pertandingan telah menjadi kekhawatiran besar bagi otoritas-otoritas sepak bola, di mana banyak penjudi kriminal membayar para pemain, wasit, atau ofisial untuk memanupulasi pertandingan dan meraup uang banyak dari hasil taruhan.

Mutshcke mengatakan pada beberapa kasus liga nasional dan konfederasi telah disusupi, sehingga para wasit dapat mendongkrak karir mereka jika mau ambil bagian pada proses manipulasi ini.

"Kami telah melihat mereka berupaya mengambil alih keseluruhan klub dan menggunakannya untuk manipulasi pertandingan, kami melihatnya pada beberapa bagian di dunia ini," ucapnya.

"Jika mereka dapat mengambil alih klub, mereka membayar gaji para pemain namun mereka juga mentransfer pemain-pemain ke klub lain." "Kami juga melihat infiltrasi di level asosiasi, dan pada level konfederasi."

"Saya tahu bahwa para wasit terpancing oleh para pengatur (pertandingan) yang menjanjikan mendongkrak karir mereka ketika mereka terlibat pada manipulasi pertandingan, karena para pengatur (pertandingan) ini memiliki kontak-kontak yang bagus di federasi."

Mutschke menekankan bahwa semua negara rentan dengan praktek ini, bukan hanya negara-negara yang memiliki reputasi korupsi. Salah satu kasus terbesar, yang membuat seorang warga negara Singapura Wilson Raj Perumal dihukum penjara dua tahun akibat mengatur pertandingan, justru terjadi di Finlandia.

"Selalu terdapat pertanyaan mengenai daerah mana yang paling rentan di dunia," kata Mutschke.

"Jawaban saya tidak ada. Perumal pergi ke Finlandia dan mengatur pertandingan-pertandingan di sana dan berusaha menginfiltrasi klub di sana. Finlandia berada di peringkat kedua pada indeks transparansi, maka ini bukan masalah korupsi." Terowongan para pemain Mutschke mengatakan para pengatur pertandingan terkadang akan mendekati para pemain, wasit, atau ofisial.

"Anda memiliki 50%  kesempatan untuk menerimanya dan apa yang mengecewakan saya adalah hal itu terdemonstrasi kepada saya, bahwa mereka tidak memiliki rasa takut kepada kami, karena tidak seorang pun melaporkan pendekatan-pendekatan seperti ini," ucapnya.

Pada kesempatan lain, mereka mengamati para korbannya meski memakan waktu.

"Anda mengikuti seorang target selama beberapa waktu, anda menilai sikapnya, apakah ia puas, gembira, apakah ia digaji dengan baik, atau kurang dari klub, atau apakah ia bertaruh." Terkadang, mereka bahkan memiliki akses untuk berada di terowongan para penonton.

"Para pengatur pertandingan berada di stadion-stadion dan mencari targetnya, dan terkadang mereka mendapat akses untuk ke terowongan, yang merupakan hal aneh," tuturnya.

Taktik lain dari para pengatur pertandingan adalah merancang pertandingan persahabatan internasional, dan mengganti wasit pada menit terakhir.

"Jika anda tidak memiliki gambar-gambar dari pertandingan, sulit untuk menemukan apakah ini wasit sebenarnya yang semestinya memimpin pertandingan." Pada satu kesempatan, FIFA menemukan pergantian ini disebabkan wasit yang sudah didaftarkan berkulit hitam, dan saat mereka melihat di Youtube, wasit yang memimpin pertandingan berkulit putih.

"Saya berusaha untuk mengingatkan anggota kami dan melibatkan mereka pada masa yang akan datang untuk memerangi korupsi. Kami memiliki 209 anggota dan beberapa konfederasi, dan ini merupakan tantangan nyata. Saya mungkin gagal, namun setidaknya saya akan senang berkata saya sudah berusaha." Contoh Guatemala "Tujuan saya adalah segenap komunitas sepak bola diperkuat pada pertarungan melawan korupsi dan manipulasi pertandingan." Mutschke mengatakan terdapat beberapa kabar baik.

"Pada musim gugur silam, tiga wasit didekati seorang pengatur pertandingan saat melakukan perjalanan ke stadion (dan diminta) untuk mengatur pertandingan. Mereka melaporkannya ke FIFA. Kami dapat mengidentifikasi orang itu, ia adalah bagian dari federasi sepak bola, ia berada di bawah penyelidikan kami dan akan didepak," kata Mutschke.

Ia tidak percaya bahwa ada pertandingan-pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2014 yang telah terkena dampak pengaturan pertandingan, karena besarnya reputasi pertandingan-pertandingan itu.

Ia juga memuji tim Guatemala yang belakangan ini mengecam tiga rekan setimnya karena berusaha membujuk mereka untuk mengatur pertandingan pada laga persahabatan. Ketiga pemain itu mendapat skorsing seumur hidup pada tahun lalu.

"Guatemala adalah contoh bagus untuks aya, mereka benar-benar bertekad melakukan sesuatu. Kami sangat mengapresiasinya," ucapnya.

Bagaimanapun, Mutschke mengakui bahwa FIFA tidak dapat memberi perlindungan kepada para saksi, dan sanksi kepada para pemain seringkali lebih keras daripada untuk pengatur pertandingan.

"Terdapat celah hukum yang besar, saya tahu kebanyakan mendapat (hukuman) satu aatu dua tahun, atau terkadang hanya denda. Dapatkah anda mengancam organisasi kriminal dengan denda?" "Saya juga merasa ini kurang adil. Para pemain segera kehilangan profesi mereka dan para pengatur pertandingan membayar denda. Ini adalah situasi yang aneh. Kami memiliki peraturan-peraturan untuk alasan yang bagus, namun terkadang peraturan itu menentang kami." (Antara/Reuters/msb)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Martin-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top