Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suporter Persija Meninggal Dunia, Sepak Bola Indonesia Bakal Dibekukan Lagi?

Meninggalnya suporter suporter Persiaj Jakarta, Harun Al Rasyid Lestaluhu alias Ambon, 30 tahun, disambut keprihatinan lembaga watch dog sepak bola nasional, Save Our Soccer #SOS.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 07 November 2016  |  16:40 WIB
Suporter Persija Meninggal Dunia, Sepak Bola Indonesia Bakal Dibekukan Lagi?
Ilustrasi-Suporter Persija - Antara/Puspa Perwitasari
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Meninggalnya suporter suporter Persiaj Jakarta, Harun Al Rasyid Lestaluhu alias Ambon, 30 tahun, disambut keprihatinan lembaga watch dog sepak bola nasional, Save Our Soccer #SOS. Kordinator lembaga itu, Akmal Marhali, bahkan meminta  Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo untuk menghentikan Indonesia Soccer Championship.

"Terlalu mahal sepak bola harus dibayar dengan nyawa,” kata Akmal dalam rilisnya, Senin, 7 November 2016.  "Sepak bola sejatinya adalah panggung hiburan, bukan tempat pemakaman."

Harun meninggal dalam bentrokan dengan warga Lungbenda, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, 6 November 2016. Bentrokan terjadi di di Tol Palimanan, sekitar pukul 16.40 WIB, setelah laga Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Stadion Manahan, Solo, Sabtu lalu. Harun, warga Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta, mengembuskan nafas terakhir ketika dilarikan ke Rumah Sakit. Hasil otopsi menyebutkan selain mengalami luka pendarahan di kepala, juga luka memar akibat lemparan batu dan pukulan benda tumpul.

Dalam catatan #SOS, sudah ada 54 tumbal nyawa di sepak bola Indonesia sejak Liga Indonesia digelar pada 1993/1994. Khusus 2016, litbang #SOS mencatat sudah enam nyawa melayang, yakni M. Fahreza (The Jakmania), Stanislaus Gandhang Deswara (BCS, Sleman), Naga Reno Cenopati (Singamania), M. Rovi Arrahman (bobotoh), sampai Gilang dan Harun Al Rasyid Lestaluhu (The Jakmania).

Keenam korban terakhir meninggal dalam kegiatan kompetisi  Indonesia Soccer Championship (ISC) yang digagas pemerintah dan dikelola PT Gelora Trisula Semesta (GTS) sebagai proyek percontohan reformasi tata kelola sepak bola Indonesia.

“Buat apa ada sepak bola bila masih ada darah, nyawa, dan air mata terbuang sia-sia. Pemerintah dan pihak-pihak terkait harus tanggung jawab terhadap kejadian ini,” kata Akmal. Karena itu, lembaganya meminta Presiden Jokowi menghentikan kompetisi tersebut, karena empat alasan.

Pertama, ISC tak memiliki legal standing yang jelas. Siapa yang bertanggung jawab terhadap permasalahan yang terjadi sejauh ini terkesan tertutup. "Pemerintah, PSSI, GTS? Bila Pemerintah, BOPI sebagai lembaga yang menangani olahraga professional sejauh ini tak mengeluarkan rekomendasi. PSSI sedari awal tidak dilibatkan karena saat ISC digelar posisinya dibekukan Menteri Pemuda dan Olahraga. GTS? Dari mana mendapatkan hak sebagai operator? Ini sangat riskan dan berisiko di tengah persaingan sengit para kontestan dari Sabang sampai Merauke,” kata Akmal.

Kedua, ISC yang dikelola GTS dan diharapkan sebagai proyek percontohan reformasi tata kelola sepak bola Indonesia tak memberikan contoh yang benar. Mulai dari kasus Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) pemain asing, kontrak pemain, sampai kepada pengelolaan dan pembinaan suporter yang berujung hilangnya enam nyawa.

Ketiga, keinginan Presiden Jokowi agar sepak bola harus tetap jalan sebagai hiburan masyarakat faktanya malah menjadi tempat bersimbahnya darah, nyawa, dan air mata. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan orangtua, sanak saudara, dan tetangga ketika anak kesayangan mereka pulang nonton sepak bola sudah tertutup kain kafan dan keranda mayat.

Keempat, tak adanya langkah-langkah konkret dari pemerintah, kepolisian, PSSI, dan GTS untuk mencegah terjadinya aksi-aksi anarkistis di lapangan yang berujung kematian. Tak ada regulasi untuk suporter seperti Football Spectator Act (FSA) di Inggris. Selain itu, dari enam korban tewas belum ada satupun yang diusut tuntas dan pelakunya diberikan hukuman sesuai undang-undang.  

GTS dan klub juga tak ada upaya-upaya pembinaan terhadap suporter untuk mencegah potensi kerusuhan dan bentrokan. “SOS berharap Presiden melihat fakta-fakta di lapangan dan menuntut untuk dihentikannya ISC sementara karena sudah tak bisa memberikan hiburan bagi masyarakat. Bahkan, sudah mengalami distorsi menjadi ladang pembantaian dan kuburan massal,” kata Akmal. “ISC silakan bergulir kembali bila operator dan pihak-pihak terkait bisa memberikan jaminan berjalan lebih baik dan tak akan ada nyawa lagi yang jadi tumbal.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

TSC 2016

Sumber : Tempo.co

Editor : Andhika Anggoro Wening
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top