Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Laporan Dari Old Trafford, Markas Manchester United: Sepakbola Adalah Hidup Saya

BISNIS.COM, MANCHESTER - Bagi orang Inggris, negeri yang disebut sebagai asal sepakbola, mungkin tak berlebihan mengatakan bahwa sepakbola telah menjadi bagian penting dari hidup mereka. Bukan sekadar olahraga ataupun hobi, sepakbola telah menjadi matapencaharian
Arif Budisusilo
Arif Budisusilo - Bisnis.com 24 April 2013  |  06:27 WIB

BISNIS.COM, MANCHESTER - Bagi orang Inggris, negeri yang disebut sebagai asal sepakbola, mungkin tak berlebihan mengatakan bahwa sepakbola telah menjadi bagian penting dari hidup mereka. Bukan sekadar olahraga ataupun hobi, sepakbola telah menjadi matapencaharian penting, dan bisnis besar.

Tren itu pun bahkan telah merambah ke seluruh dunia. "Football is my life," kata Robert Wroe, menjawab pertanyaan saya, dalam sebuah percakapan ringan menjelang pertandingan antara Manchester United melawan Aston Villa, Senin malam waktu Manchester atau Selasa (23/4) dini hari waktu Indonesia.

Pertandingan yang dimenangkan MU dengan skor langsung 3-0, semuanya dicetak oleh Robin Van Persie pada babak pertama itu, memastikan si Setan Merah, julukan klub sepakbola paling kaya di Inggris itu, merebut posisi terhormat di Liga Premier Inggris dari tangan tim sekampungnya, Manchester City.

Pasalnya, City pada pertandingan Minggu malam kalah 1-3 melawan Tottenham Hotspur. Ini menjadikan selisih poin dari 33 pertandingan yang dilakukan City terpaut jauh, 16 poin, di bawah MU yang dengan 34 pertandingan mengantungi 84 poin. Meski masih tersisa 4 pertandingan lagi, tidak akan mengubah posisi MU di puncak klasemen.

Maka, pesta pora di dalam dan luar stadion Old Trafford, markas Manchester United, berlangsung meriah selepas wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan 2x45 menit itu berakhir. Para fans MU mengelu-elukan para pemain yang melakukan parade keliling lapangan. Pelatih legendaris MU, Sir Alex Ferguson, yang telah membesut tim itu selama 25 tahun, juga memasuki lapangan dan tampak berpelukan dengan anak asuhnya serta dielu-elukan para pendukung fanatik Setan Merah.

Selang beberapa saat setelah pertandingan berakhir, para pendukung United tidak beranjak dari tribun, dan terus berdiri menerikkan yel-yel "Glory Man United, Glory..glory Man United..." yang diselingi lipsing dari speaker-speaker besar yang dipasang di seantero stadion. Suara speaker yang membahana menjadi semacam 'provokator' bagi para pendukung, karena memancing mereka untuk bernyanyi bersama atau meneriakkan yel-yel kebesaran mereka itu. 

Lagu kebesaran para juara, We Are the Champions pun menggema di dalam stadion. Maka semua penonton turut larut menyanyikan lagu tersebut, seraya menyaksikan laps keliling lapangan para pemain MU yang merayakan gelar ke-20 mereka sebagai Champions Liga Inggris. Sekaligus hasil ini menjadi debut ke-13 Sir Alex Ferguson memenangi Liga Primer Inggris.

Saya beruntung turut larut dalam suasana di antara sekitar 75.341 penonton yang memadati stadion tersebut, karena diundang Bank Danamon untuk turut bersama 12 nasabah yang memenangi undian kartu kredit dan kartu debet Manchester United, menyaksikan pertandingan yang oleh sebagian orang Inggris disebut big match itu.

Padahal, menurut saya, sebenarnya pertandingan berasa kurang greget karena MU tampak menang mudah dan membuat kejutan dua gol hanya pada menit-menit awal. Dengan hasil itu, Aston Villa berpeluang besar terdegradasi dari Liga Primer, berebut posisi tiga terbawah bersama Wigan, QPR dan Reading.

Pesta meriah juga berlangsung di luar stadion, dan jalanan keluar dari Old Trafford pun macet parah.  Meskipun bus yang kami tumpangi parkir di luar area stadion, rombongan Danamon pun baru bisa keluar dari kawasan Old Trafford satu jam kemudian.

Para pendukung fanatik MU yang berjoged dan menari-nari di sekeliling stadion juga dijaga ketat oleh aparat keamanan. Sejumlah pasukan polisi berkuda, terutama polisi perempuan, juga dikerahkan untuk menjaga keamanan dan antisipasi jika terjadi huru-hara.

Sebelum pertandingan berlangsung, beberapa helikopter juga tampak mengelilingi langit Manchester. Menurut Gregorius Suharsono, mantan wartawan koran bisnis ternama Inggris, yang lama mukim di London, yang memandu kami selama berada di Manchester, langkah antisipatif itu dilakukan karena mereka tak ingin kecolongan.

Bahkan sepanjang pertandingan berlangsung, saya menyaksikan para petugas keamanan terus-menerus mengingatkan dan menghampiri penonton yang potensial membuat keributan. Penonton juga dilarang membawa botol air mineral atau minuman kemasan plastik yang masih tertutup ke dalam stadion. Apalagi minuman kaleng, sama sekali tidak diizinkan.

Sepakbola Jadi Industri

Sebelum pertandingan pun, Rob bercerita bahwa suasana laga akan seru karena sebenarnya Villa tak ingin kalah karena terancam degradasi. Namun, tim yang kehilangan sejumlah pemain inti, karena berpindah ke klub yang lain, termasuk hijrah ke City, itu tak mampu mengimbangi permainan United. Beberapa komentar penonton usai pertandingan mengatakan MU kali ini "menang mudah".

Namun, pertandingan tetap saja seru untuk dinikmati, karena suasana yang begitu meriah dan gempita. Bahkan, menurut komentar para penonton dari Indonesia, 2 x 45 menit serasa berlalu begitu cepat, karena atraksi yang menarik "di luar" pertandingan.

Ini karena kemasan pertandingan sepakbola yang dibuat sedemikian rupa, sehingga penonton tidak bosan. Greg, panggilan akrab Gregorius, mengatakan ini terjadi karena orang Inggris memang pintar menjual, terutama sepakbola.

Jika melihat di televisi, misalnya, gambar yang tampil begitu menakjubkan karena teknologi kamera yang digunakan selalu yang terbaik dan dari berbagai sudut pengambilan gambar. Suara di dalam stadiun juga tak kalah gempita, karena ternyata menggunakan banyak speaker besar sebagai  lipsing yang memancing penonton untuk ikut berteriak. Maka, penonton serasa menikmati suasana gaduh sepanjang pertandingan.

Gegap gempita industri sepakbola pun menarik Rob untuk terjun ke bisnis ini.  'Pensiun dini' dari tentara karena ingin mendapatkan penghasilan yang lebih menjanjikan, Rob pun berniat nyemplung di bisnis sepakbola, meski saat ini menjadi driver sebuah perusahaan perjalanan di Inggris.

September nanti, Rob akan memasuki sekolah bisnis sepakbola di UCFB (university College of Football Business). Ia mengaku akan belajar mengelola bisnis sepakbola, terutama dari aspek manajemen dan marketing, selama 3 tahun di sekolah bisnis itu.

Meskipun usia menjelang kepala 5, Rob tampak bersemangat soal itu. "Saya di army 22 tahun. Saya ingin memperbaiki hidup. Sepakbola adalah hidup saya," kata pria yang tinggal di Burnley, sekitar 50 km dari Manchester, itu.

Ia menambahkan, semua anggota keluarganya adalah pecinta bola. Anak sulungnya bahkan telah menjadi pemain amatir di Rosendale, yang tahun ini memenangi liga amatir, dan bermain sepakbola lima kali dalam seminggu. Persis seperti karyawan kantoran bekerja.

Barangkali banyak orang punya mimpi seperti Rob. Dan di Inggris, sepakbola telah berkembang sedemikian rupa di luar hiburan dan olahraga. Nilai bisnis sepakbola di Inggris bahkan lebih dari 3 miliar poundsterling setiap tahun. Ini angka yang fantastis, lebih dari Rp45 triliun!

Maka jangan heran jika banyak korporasi dunia berebut ikut mejeng di arena bergengsi, Liga Inggris, itu, termasuk sejumlah perusahaan, bank dan BUMN dari Indonesia.

Danamon, sebagai salah satu sponsor MU, turut mejeng dalam running text di papan skor (scoring board). Berulang kali running text besar yang bertuliskan "Wellcome to Customer of Bank Danamon, Indonesia" tampil, bergantian dengan greating kepada sejumlah nama tenar yang menonton pertandingan itu.

Bahkan, uniknya, penonton yang hari itu berulangtahun juga diumumkan di papan skor, terutama anak-anak. Saya memperoleh informasi, data itu diperoleh otomatis karena banyak fans yang menjadi member MU di Old Trafford. Sebagian tiket yang dibeli pun berdasarkan membership. Teknologi informasi memungkinkan untuk memadukan semua hal itu ke dalam satu paket manajemen sepakbola menjadi showbiz yang menarik dan menguntungkan.

Danamon sendiri, sejak bekerjasama dengan MU mulai tahun 2006, memperoleh keuntungan berupa awareness yang relatif besar. Bahkan saat ini, menurut catatan Bank Danamon, terdapat 80.000 pemegang kartu Manchester United. Bulan depan bank itu disebut-sebut akan meluncurkan kartu baru lagi, yakni Manchester United Legend.

Maka Rob benar. Sepakbola bukan hanya pilihan hidup, tak cuma hobi atau hiburan, tetapi telah menjadi industri, yang memberi kehidupan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Liga Inggris manchester united aston villa
Editor : Others
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top