Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Chelsea Dibungkam Sunderland: Musim Pertama Mou Tanpa Gelar?

Sepuluh tahun lalu, ketika baru datang ke Inggris, Jose Mourinho menyebut dirinya sebagai The Special One. Mou baru saja dikontrak Chelsea seusai membawa FC Porto menjuarai Liga Champion 2003/2004.
Samdyasara Saragih
Samdyasara Saragih - Bisnis.com 20 April 2014  |  14:49 WIB

Bisnis.com, JAKATTA--Sepuluh tahun lalu, ketika baru datang ke Inggris, Jose Mourinho menyebut dirinya sebagai The Special One. Mou baru saja dikontrak Chelsea seusai membawa FC Porto menjuarai Liga Champion 2003/2004. 

Tahun pertama, Mourinho memberi apa yang lama dirindukan oleh fans: juara liga Inggris. Tentu saja ini bukan gelar tertinggi bagi sebuah klub di Eropa. Suporter, pemain, dan tentu saja sang pemilik, Roman Abramovich, menginginkan lebih: juara Liga Champion. 

Tahun pertama, Mou gagal. Musim kedua juga. Padahal dia mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris bagi The Blues. Namun musim ketiga Mou lebih parah. Dia hanya sanggup menghantarkan Jhon Terry dkk. meraih trofi Piala FA. 

Pemilik mulai tak sabar. Awal musim 2007/2008 Chelsea sempoyongan. Maka tak ada ampun bagi dia. Mou diusir dari Stamford Bridge. 

Inter Milan menjadi pelabuhan berikutnya. Inter dihantarkan meraih scudetto pada musim 2008/2009. Setahun berselang, I Nerazzurri dibawanya mendapatkan apa yang sebetulnya tidak pernah dibayangkan interisti: treble winners. Belum pernah klub Italia merebut gelar Liga Champion, Liga Italia, dan Coppa Italia, dalam semusim. 

Mourinho tampaknya puas. Maka dia pun pindah ke Real Madrid. Kompetisi La Liga tidak ketat. Tapi Real Madrid sedang jadi bulan-bulanan Barcelona. 

Ketika El Real pada musim 2010/2011 hanya merebut Copa del Rey, para suporter sudah menganggap itu hasil luar biasa. Pembuktiannya adalah musim berikutnya. Mou meruntuhkan kedigdayaan Barcelona yang menguasai La Liga selama tiga tahun. 

Tapi, sama seperti Roman, pemilik Real Madrid menginginkan lebih. Los Blancos ingin melengkapi koleksi Liga Championnya yang mentok di angka sembilan.

Sama seperti di Chelsea, Mou gagal. Dia hanya mampu membawa Real menapak semifinal kompetisi antarklub tertinggi di Eropa. Lebih tragis, musim 2012/2013, menjadi musim terburuk. Juga terakhir. Mou tanpa gelar! 

Tapi Mou sudah punya pelabuhan berikutnya. Dia pulang ke Chelsea, klub yang menurutnya, "Begitu mencintaiku!" 

Liga Primer Inggris musim 2013/2014 pun kembali menjadi ajang pembuktian. Mou praktis mengandalkan pemain muda pilihan Roberto di Matteo. Selebihnya pemain tua stok lama, dan pemain tua stok baru. 

Kelihatannya cukup. Hingga pekan ke-34 Chelsea bertenger di peringkat kedua Liga Inggris. Di level Eropa, The Blues meraih tiket semifinal. 

Berhasilkah Mourinho di musim pertamanya ini? Jalan terjal mulai menghadang. Sabtu malam (19/4) atau Minggu (20/4) dini hari WIB Chelsea harus menelan kekalahan dari Sunderland. Oscar dkk. dipermalukan 1-2 di depan fans mereka.

Seandainya Liverpool, pemuncak klasemen, menang pada malam nanti melawan Norwich, maka Mou harus mengucapkan selamat tinggal pada perebutan gelar. 

Untung, masih ada Liga Champion. Chelsea akan berhadapan dengan Atletico Madrid. Bukan Real, bukan Bayern Muenchen memang. Tapi Atletico sedang memimpin La Liga. Klub itu juga menyingkirkan Barcelona di perempatfinal.

Namun yang lebih menakutkan: Diego Simeone, pelatih Atletico, adalah orang yang musim lalu menaklukkan Mou dalam final Copa del Rey. Musim terburuk Mourinho di akhir pengabdiannya untuk sebuah klub.

Bukan tidak mungkin, Simeone akan memberi yang lebih mengerikan lagi: Musim pertama terburuk bagi Mourinho, tanpa satu gelar pun. 

Pembuktiannya adalah Rabu nanti dalam leg pertama semifinal. Atau katakanlah seminggu berikutnya pada leg kedua. 

Jika, katakanlah, Mou dapat membalas dendam pada Simeone, maka masih ada batu sandungan lain. Bayern Muenchen dan Real Madrid masih rakus mengejar gelar. 

Akankah Mourinho akan mengakiri musim ini tanpa gelar? Kita masih menunggu. Bisnis.com, Jakarta--Sepuluh tahun lalu, ketika baru datang ke Inggris, Jose Mourinho menyebut dirinya sebagai The Special One. Mou baru saja dikontrak Chelsea usai membawa FC Porto menjuarai Liga Champion 2003/2004. 

Tahun pertama, Mourinho memberi apa yang lama dirindukan oleh fans: juara liga Inggris. Tentu saja ini bukan gelar tertinggi bagi sebuah klub di Eropa. Suporter, pemain, dan tentu saja sang pemilik, Roman Abramovich, menginginkan lebih: juara Liga Champion. 

Tahun pertama, Mou gagal. Musim kedua juga. Padahal dia mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris bagi The Blues. Namun musim ketiga Mou lebih parah. Dia hanya sanggup menghantarkan Jhon Terry dkk. meraih trofi Piala FA. 

Pemilik mulai tak sabar. Awal musim 2007/2008 Chelsea sempoyongan. Maka tak ada ampun bagi dia. Mou diusir dari Stamford Bridge. 

Inter Milan menjadi pelabuhan berikutnya. Inter dihantarkan meraih scudetto pada musim 2008/2009. Setahun berselang, I Nerazzurri dibawanya mendapatkan apa yang sebetulnya tidak pernah dibayangkan interisti: treble winners. Belum pernah klub Italia merebut gelar Liga Champion, Liga Italia, dan Coppa Italia, dalam semusim. 

Mourinho tampaknya puas. Maka dia pun pindah ke Real Madrid. Kompetisi La Liga tidak ketat. Tapi Real Madrid sedang jadi bulan-bulanan Barcelona. 

Ketika El Real pada musim 2010/2011 hanya merebut Copa del Rey, para suporter sudah menganggap itu hasil luar biasa. Pembuktiannya adalah musim berikutnya. Mou meruntuhkan kedigdayaan Barcelona yang menguasai La Liga selama tiga tahun. 

Tapi, sama seperti Roman, pemilik Real Madrid menginginkan lebih. Los Blancos ingin melengkapi koleksi Liga Championnya yang mentok di angka sembilan. Sama seperti di Chelsea, Mou gagal.

Dia hanya mampu membawa Real menapak semifinal kompetisi antarklub tertinggi di Eropa. Lebih tragis, musim 2012/2013, menjadi musim terburuk. Juga terakhir. Mou tanpa gelar! 

Tapi Mou sudah punya pelabuhan berikutnya. Dia pulang ke Chelsea, klub yang menurutnya, "Begitu mencintaiku!" 

Liga Primer Inggris musim 2013/2014 pun kembali menjadi ajang pembuktian. Mou praktis mengandalkan pemain muda pilihan Roberto di Matteo. Selebihnya pemain tua stok lama, dan pemain tua stok baru. 

Kelihatannya cukup. Hingga pekan ke-34 Chelsea bertenger di peringkat kedua Liga Inggris. Di level Eropa, The Blues meraih tiket semifinal. 

Berhasilkah Mourinho di musim pertamanya ini? Jalan terjal mulai menghadang. Sabtu malam (19/4) atau Minggu (20/4) dini hari WIB Chelsea harus menelan kekalahan dari Sunderland. Oscar dkk. dipermalukan 1-2 di depan fans mereka. Seandainya Liverpool, pemuncak klasemen, menang pada malam nanti melawan Norwich, maka Mou harus mengucapkan selamat tinggal pada perebutan gelar. 

Untung, masih ada Liga Champion. Chelsea akan berhadapan dengan Atletico Madrid. Bukan Real, bukan Bayern Muenchen memang. Tapi Atletico sedang memimpin La Liga. Klub itu juga menyingkirkan Barcelona di perempatfinal. Namun yang lebih menakutkan: Diego Simeone, pelatih Atletico, adalah orang yang musim lalu menaklukkan Mou dalam final Copa del Rey. Musim terburuk Mourinho di akhir pengabdiannya untuk sebuah klub.

Bukan tidak mungkin, Simeone akan memberi yang lebih mengerikan lagi: Musim pertama terburuk bagi Mourinho, tanpa satu gelar pun. 

Pembuktiannya adalah Rabu nanti dalam leg pertama semifinal. Atau katakanlah seminggu berikutnya pada leg kedua. 

Jika, katakanlah, Mou dapat membalas dendam pada Simeone, maka masih ada batu sandungan lain. Bayern Muenchen dan Real Madrid masih rakus mengejar gelar. 

Akankah Mourinho akan mengakiri musim ini tanpa gelar? Kita masih menunggu. Bisnis.com, Jakarta--Sepuluh tahun lalu, ketika baru datang ke Inggris, Jose Mourinho menyebut dirinya sebagai The Special One. Mou baru saja dikontrak Chelsea usai membawa FC Porto menjuarai Liga Champion 2003/2004. 

Tahun pertama, Mourinho memberi apa yang lama dirindukan oleh fans: juara liga Inggris. Tentu saja ini bukan gelar tertinggi bagi sebuah klub di Eropa. Suporter, pemain, dan tentu saja sang pemilik, Roman Abramovich, menginginkan lebih: juara Liga Champion. 

Tahun pertama, Mou gagal. Musim kedua juga. Padahal dia mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris bagi The Blues. Namun musim ketiga Mou lebih parah. Dia hanya sanggup menghantarkan Jhon Terry dkk. meraih trofi Piala FA. 

Pemilik mulai tak sabar. Awal musim 2007/2008 Chelsea sempoyongan. Maka tak ada ampun bagi dia. Mou diusir dari Stamford Bridge. 

Inter Milan menjadi pelabuhan berikutnya. Inter dihantarkan meraih scudetto pada musim 2008/2009. Setahun berselang, I Nerazzurri dibawanya mendapatkan apa yang sebetulnya tidak pernah dibayangkan interisti: treble winners. Belum pernah klub Italia merebut gelar Liga Champion, Liga Italia, dan Coppa Italia, dalam semusim. 

Mourinho tampaknya puas. Maka dia pun pindah ke Real Madrid. Kompetisi La Liga tidak ketat. Tapi Real Madrid sedang jadi bulan-bulanan Barcelona. 

Ketika El Real pada musim 2010/2011 hanya merebut Copa del Rey, para suporter sudah menganggap itu hasil luar biasa. Pembuktiannya adalah musim berikutnya. Mou meruntuhkan kedigdayaan Barcelona yang menguasai La Liga selama tiga tahun. 

Tapi, sama seperti Roman, pemilik Real Madrid menginginkan lebih. Los Blancos ingin melengkapi koleksi Liga Championnya yang mentok di angka sembilan. Sama seperti di Chelsea, Mou gagal. Dia hanya mampu membawa Real menapak semifinal kompetisi antarklub tertinggi di Eropa. Lebih tragis, musim 2012/2013, menjadi musim terburuk. Juga terakhir. Mou tanpa gelar! 

Tapi Mou sudah punya pelabuhan berikutnya. Dia pulang ke Chelsea, klub yang menurutnya, "Begitu mencintaiku!" 

Liga Primer Inggris musim 2013/2014 pun kembali menjadi ajang pembuktian. Mou praktis mengandalkan pemain muda pilihan Roberto di Matteo. Selebihnya pemain tua stok lama, dan pemain tua stok baru. 

Kelihatannya cukup. Hingga pekan ke-34 Chelsea bertenger di peringkat kedua Liga Inggris. Di level Eropa, The Blues meraih tiket semifinal. 

Berhasilkah Mourinho di musim pertamanya ini? Jalan terjal mulai menghadang. Sabtu malam (19/4) atau Minggu (20/4) dini hari WIB Chelsea harus menelan kekalahan dari Sunderland. Oscar dkk. dipermalukan 1-2 di depan fans mereka. Seandainya Liverpool, pemuncak klasemen, menang pada malam nanti melawan Norwich, maka Mou harus mengucapkan selamat tinggal pada perebutan gelar. 

Untung, masih ada Liga Champion. Chelsea akan berhadapan dengan Atletico Madrid. Bukan Real, bukan Bayern Muenchen memang. Tapi Atletico sedang memimpin La Liga. Klub itu juga menyingkirkan Barcelona di perempatfinal. Namun yang lebih menakutkan: Diego Simeone, pelatih Atletico, adalah orang yang musim lalu menaklukkan Mou dalam final Copa del Rey. Musim terburuk Mourinho di akhir pengabdiannya untuk sebuah klub.

Bukan tidak mungkin, Simeone akan memberi yang lebih mengerikan lagi: Musim pertama terburuk bagi Mourinho, tanpa satu gelar pun. 

Pembuktiannya adalah Rabu nanti dalam leg pertama semifinal. Atau katakanlah seminggu berikutnya pada leg kedua. 

Jika, katakanlah, Mou dapat membalas dendam pada Simeone, maka masih ada batu sandungan lain. Bayern Muenchen dan Real Madrid masih rakus mengejar gelar. 

Akankah Mourinho akan mengakiri musim ini tanpa gelar? Kita masih menunggu. Bisnis.com, Jakarta--Sepuluh tahun lalu, ketika baru datang ke Inggris, Jose Mourinho menyebut dirinya sebagai The Special One. Mou baru saja dikontrak Chelsea usai membawa FC Porto menjuarai Liga Champion 2003/2004. 

Tahun pertama, Mourinho memberi apa yang lama dirindukan oleh fans: juara liga Inggris. Tentu saja ini bukan gelar tertinggi bagi sebuah klub di Eropa. Suporter, pemain, dan tentu saja sang pemilik, Roman Abramovich, menginginkan lebih: juara Liga Champion. 

Tahun pertama, Mou gagal. Musim kedua juga. Padahal dia mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris bagi The Blues. Namun musim ketiga Mou lebih parah. Dia hanya sanggup menghantarkan Jhon Terry dkk. meraih trofi Piala FA. 

Pemilik mulai tak sabar. Awal musim 2007/2008 Chelsea sempoyongan. Maka tak ada ampun bagi dia. Mou diusir dari Stamford Bridge. 

Inter Milan menjadi pelabuhan berikutnya. Inter dihantarkan meraih scudetto pada musim 2008/2009. Setahun berselang, I Nerazzurri dibawanya mendapatkan apa yang sebetulnya tidak pernah dibayangkan interisti: treble winners. Belum pernah klub Italia merebut gelar Liga Champion, Liga Italia, dan Coppa Italia, dalam semusim. 

Mourinho tampaknya puas. Maka dia pun pindah ke Real Madrid. Kompetisi La Liga tidak ketat. Tapi Real Madrid sedang jadi bulan-bulanan Barcelona. 

Ketika El Real pada musim 2010/2011 hanya merebut Copa del Rey, para suporter sudah menganggap itu hasil luar biasa. Pembuktiannya adalah musim berikutnya. Mou meruntuhkan kedigdayaan Barcelona yang menguasai La Liga selama tiga tahun. 

Tapi, sama seperti Roman, pemilik Real Madrid menginginkan lebih. Los Blancos ingin melengkapi koleksi Liga Championnya yang mentok di angka sembilan. Sama seperti di Chelsea, Mou gagal. Dia hanya mampu membawa Real menapak semifinal kompetisi antarklub tertinggi di Eropa. Lebih tragis, musim 2012/2013, menjadi musim terburuk. Juga terakhir. Mou tanpa gelar! 

Tapi Mou sudah punya pelabuhan berikutnya. Dia pulang ke Chelsea, klub yang menurutnya, "Begitu mencintaiku!" 

Liga Primer Inggris musim 2013/2014 pun kembali menjadi ajang pembuktian. Mou praktis mengandalkan pemain muda pilihan Roberto di Matteo. Selebihnya pemain tua stok lama, dan pemain tua stok baru. 

Kelihatannya cukup. Hingga pekan ke-34 Chelsea bertenger di peringkat kedua Liga Inggris. Di level Eropa, The Blues meraih tiket semifinal. 

Berhasilkah Mourinho di musim pertamanya ini? Jalan terjal mulai menghadang. Sabtu malam (19/4) atau Minggu (20/4) dini hari WIB Chelsea harus menelan kekalahan dari Sunderland. Oscar dkk. dipermalukan 1-2 di depan fans mereka. Seandainya Liverpool, pemuncak klasemen, menang pada malam nanti melawan Norwich, maka Mou harus mengucapkan selamat tinggal pada perebutan gelar. 

Untung, masih ada Liga Champion. Chelsea akan berhadapan dengan Atletico Madrid. Bukan Real, bukan Bayern Muenchen memang. Tapi Atletico sedang memimpin La Liga. Klub itu juga menyingkirkan Barcelona di perempatfinal. Namun yang lebih menakutkan: Diego Simeone, pelatih Atletico, adalah orang yang musim lalu menaklukkan Mou dalam final Copa del Rey. Musim terburuk Mourinho di akhir pengabdiannya untuk sebuah klub.

Bukan tidak mungkin, Simeone akan memberi yang lebih mengerikan lagi: Musim pertama terburuk bagi Mourinho, tanpa satu gelar pun. 

Pembuktiannya adalah Rabu nanti dalam leg pertama semifinal. Atau katakanlah seminggu berikutnya pada leg kedua. 

Jika, katakanlah, Mou dapat membalas dendam pada Simeone, maka masih ada batu sandungan lain. Bayern Muenchen dan Real Madrid masih rakus mengejar gelar. 

Akankah Mourinho akan mengakiri musim ini tanpa gelar? Kita masih menunggu. Bisnis.com, Jakarta--Sepuluh tahun lalu, ketika baru datang ke Inggris, Jose Mourinho menyebut dirinya sebagai The Special One. Mou baru saja dikontrak Chelsea usai membawa FC Porto menjuarai Liga Champion 2003/2004. 

Tahun pertama, Mourinho memberi apa yang lama dirindukan oleh fans: juara liga Inggris. Tentu saja ini bukan gelar tertinggi bagi sebuah klub di Eropa. Suporter, pemain, dan tentu saja sang pemilik, Roman Abramovich, menginginkan lebih: juara Liga Champion. 

Tahun pertama, Mou gagal. Musim kedua juga. Padahal dia mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris bagi The Blues. Namun musim ketiga Mou lebih parah. Dia hanya sanggup menghantarkan Jhon Terry dkk. meraih trofi Piala FA. 

Pemilik mulai tak sabar. Awal musim 2007/2008 Chelsea sempoyongan. Maka tak ada ampun bagi dia. Mou diusir dari Stamford Bridge. 

Inter Milan menjadi pelabuhan berikutnya. Inter dihantarkan meraih scudetto pada musim 2008/2009. Setahun berselang, I Nerazzurri dibawanya mendapatkan apa yang sebetulnya tidak pernah dibayangkan interisti: treble winners. Belum pernah klub Italia merebut gelar Liga Champion, Liga Italia, dan Coppa Italia, dalam semusim. 

Mourinho tampaknya puas. Maka dia pun pindah ke Real Madrid. Kompetisi La Liga tidak ketat. Tapi Real Madrid sedang jadi bulan-bulanan Barcelona. 

Ketika El Real pada musim 2010/2011 hanya merebut Copa del Rey, para suporter sudah menganggap itu hasil luar biasa. Pembuktiannya adalah musim berikutnya. Mou meruntuhkan kedigdayaan Barcelona yang menguasai La Liga selama tiga tahun. 

Tapi, sama seperti Roman, pemilik Real Madrid menginginkan lebih. Los Blancos ingin melengkapi koleksi Liga Championnya yang mentok di angka sembilan. Sama seperti di Chelsea, Mou gagal. Dia hanya mampu membawa Real menapak semifinal kompetisi antarklub tertinggi di Eropa. Lebih tragis, musim 2012/2013, menjadi musim terburuk. Juga terakhir. Mou tanpa gelar! 

Tapi Mou sudah punya pelabuhan berikutnya. Dia pulang ke Chelsea, klub yang menurutnya, "Begitu mencintaiku!" 

Liga Primer Inggris musim 2013/2014 pun kembali menjadi ajang pembuktian. Mou praktis mengandalkan pemain muda pilihan Roberto di Matteo. Selebihnya pemain tua stok lama, dan pemain tua stok baru. 

Kelihatannya cukup. Hingga pekan ke-34 Chelsea bertenger di peringkat kedua Liga Inggris. Di level Eropa, The Blues meraih tiket semifinal. 

Berhasilkah Mourinho di musim pertamanya ini? Jalan terjal mulai menghadang. Sabtu malam (19/4) atau Minggu (20/4) dini hari WIB Chelsea harus menelan kekalahan dari Sunderland. Oscar dkk. dipermalukan 1-2 di depan fans mereka. Seandainya Liverpool, pemuncak klasemen, menang pada malam nanti melawan Norwich, maka Mou harus mengucapkan selamat tinggal pada perebutan gelar. 

Untung, masih ada Liga Champion. Chelsea akan berhadapan dengan Atletico Madrid. Bukan Real, bukan Bayern Muenchen memang. Tapi Atletico sedang memimpin La Liga. Klub itu juga menyingkirkan Barcelona di perempatfinal. Namun yang lebih menakutkan: Diego Simeone, pelatih Atletico, adalah orang yang musim lalu menaklukkan Mou dalam final Copa del Rey. Musim terburuk Mourinho di akhir pengabdiannya untuk sebuah klub.

Bukan tidak mungkin, Simeone akan memberi yang lebih mengerikan lagi: Musim pertama terburuk bagi Mourinho, tanpa satu gelar pun. 

Pembuktiannya adalah Rabu nanti dalam leg pertama semifinal. Atau katakanlah seminggu berikutnya pada leg kedua. 

Jika, katakanlah, Mou dapat membalas dendam pada Simeone, maka masih ada batu sandungan lain. Bayern Muenchen dan Real Madrid masih rakus mengejar gelar. 

Akankah Mourinho akan mengakiri musim ini tanpa gelar? Kita masih menungg


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jose mourinho
Editor :

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top