Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Saat Samurai Biru Bikin Kocar-kacir Der Panzer dan El Matador

Kemenangan Jepang adalah kemenangan Asia dan sekaligus memberikan pelajaran bagi Jerman yang dengan pongah memaksakan 'nilai-nilai Eropa' kepada Asia.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 02 Desember 2022  |  08:43 WIB
Saat Samurai Biru Bikin Kocar-kacir Der Panzer dan El Matador
Timnas Jepang di Piala Dunia 2022 - FIFA
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Tim Nasional (Timnas) Jepang tampil memukau selama babak penyisihan Piala Dunia 2022 di Qatar. Mereka berhasil mengalahkan tim-tim raksasa. Membantai Jerman dan terakhir menumbangkan Spanyol di babak penentuan yang berlangsung dini hari tadi. Alhasil, Jepang lolos ke babak 16 besar.

Kemenangan Jepang menuai banyak komentar netizen. Ada yang mendukung adapula yang mengkritisi karena kontroversi gol kedua Jepang. Salah satu komentar yang kemudian menarik perhatian adalah istilah 'Goosebumps in the summer 1945'. Komentar ini menuai banyak kritikan, karena menyamakan kemenangan Jepang dengan suasana perang Asia Raya yang berakhir 1945-an. Cuitan itu kini telah dihapus.

Sejarah Jepang di Asia memang penuh kontroversi. Di Indonesia, Jepang dianggap sebagai penjajah yang menguras habis sumber daya alam termasuk sumber daya manusia (SDM) selama Perang Dunia ke II. Hal ini tentu tidak bisa dilupakan dan perlu dipelajari terus supaya peristiwa serupa tidak pernah terulang kembali.

Tetapi di sisi lain, Jepang juga menjadi pelecut bangsa-bangsa Asia untuk merdeka. Kemenangan Jepang di berbagai front pertempuran telah membuat kaum nasionalis di Indonesia terinspirasi untuk menentang dominasi Eropa. Apalagi, saat Jepang masuk ke Indonesia, mereka menggunakan 3 propaganda yang sangat memukau yaitu Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Pemimpin Asia.

Momentum kemenangan terhadap Kekaisaran Rusia dan aksi progresifnya di kawasan Asia Timur, menjadikan Jepang sebagai satu-satunya negara Asia yang memiliki kemampuan ekspansif menyamai negara-negara Eropa. Padahal pada saat yang bersamaan, kawasan di Asia lainnya masih berjibaku dengan penjajahan Eropa yang sudah berlangsung selama berabad-abad.

Akan tetapi kemajuan Jepang tersebut tidak datang ujug-ujug. Jepang maju berkat kebijakan restorasi Meiji yang saat itu dicetuskan oleh Kaisar Mutsuhito atau Meiji. Laiknya sebuah perubahan sosial di berbagai negara, proses restorasi juga dilewati dengan berbagai macam pertempuran. Kendati demikian, harus diakui bahwa restorasi Meiji menjadi babak baru bagi Jepang untuk melakukan modernisasi sekaligus 'mengakhiri' era Keshogunan Tokugawa yang didukung kekuatan tradisional.

Kisah tentang transisi era tradisional Jepang ke arah modern ini banyak difilmkan di Jepang sendiri maupun Hollywood. Salah satu film yang cukup menarik adalah The Last Samurai yang menampilkan sosok Tom Cruise. Dari perspektif Asia, film ini menampilkan proses intervensi 'Barat" kepada Jepang. Ada kesan pemaksaan nilai-nilai Barat di kalangan masyarakat Jepang. Selain The Last Samurai, ada juga serial film  Rurouni Kenshin yang juga mengambil latar transisi modernisasi Jepang. 

Menariknya, meski telah melakukan modernisasi, Jepang tetap mempertahankan tradisi-tradisi mereka. Secara fisik mereka modern, tetapi jiwa tetap laiknya masyarakat Asia, Jepang. Bushido maupun Banzai yang merupakan nilai-nilai Ksatria Jepang Pra Meiji tetap bertahan di kalangan militer Jepang. Dengan kombinasi modernitas dan tradisional, Jepang muncul sebagai salah satu kekuatan dunia.

Mereka berhasil mengalahkan Kekaisaran Rusia pada awal abad ke 20. Jepang juga berhasil menduduki wilayah Manchuria, China Utara. Kemenangan Jepang atas Rusia menjadi babak baru dalam sejarah Asia. Ini menandai kebangkitan bangsa-bangsa Asia. Ternyata, negara Asia bisa sederajat dengan Barat. Barat tidak sehebat yang dikira. Dan inilah yang kelak menginspirasi pemimpin bangsa-bangsa di Asia, termasuk Indonesia, untuk melawan kolonialisme Barat.

Lebih dari seabad kemudian, Jepang lagi-lagi memberikan contoh bagi negara Asia di Piala Dunia Qatar 2022. Bertindak sebagai tim yang tidak diunggulkan, Jepang justru tampil trengginas. Mereka membabat habis sekaligus memberikan pelajaran kepada Jerman yang datang dengan pongah untuk memaksakan 'nilai-nilai Barat' kepada bangsa Asia dan Timur Tengah, terutama tuan rumah Qatar. 

Pada laga akhir babak penyisihan dini hari tadi, Jepang juga berhasil meredam tim Matador, Spanyol dengan skor 2-1. Kemenangan Jepang cukup sempurna. Jepang sampai sejauh ini adalah satu-satunya tim Asia, jika mengecualikan Australia yang didominasi tradisi Anglo-Saxon, yang lolos ke babak 16 besar Piala Dunia.

Dengan fakta tersebut, pernyataan dari kapten Timnas Jepang Maya Yoshida yang menyatakan bahwa setiap kemenangan timnya di Piala Dunia Qatar mewakili Asia rasanya tidak terlalu berlebihan. Jepang suka tidak suka memang mewakili Asia dan terbukti mampu menembus dominasi Eropa dan Amerika Latin di ajang bergengsi sepak bola dunia tersebut.

"Kami [memang] mewakili Jepang, tetapi pada saat yang sama, kami juga mewakili Asia."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang piala dunia 2022 jerman
Editor : Edi Suwiknyo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top