Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Sejarah Ban Kapten One Love yang Terlarang di Piala Dunia 2022, Dari Musik Reggae sampai LGBT

Ban kapten pelangi bertuliskan "One Love" dilarang dipakai di Piala Dunia 2022. Simak sejarah dan pengertian apa itu ban kapten "One Love".
Taufan Bara Mukti
Taufan Bara Mukti - Bisnis.com 29 November 2022  |  12:21 WIB
Sejarah Ban Kapten One Love yang Terlarang di Piala Dunia 2022, Dari Musik Reggae sampai LGBT
Ban kapten pelangi bertuliskan One Love menjadi benda terlarang di Piala Dunia 2022 - Twitter DFB
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Ban kapten pelangi bertuliskan "One Love" dilarang dipakai di Piala Dunia 2022. Simak sejarah dan pengertian apa itu ban kapten "One Love".

Piala Dunia 2022 di Qatar diramaikan dengan isu-isu menarik dari luar lapangan. Salah satu topik hangat seputar Piala Dunia 2022 adalah pelarangan tim peserta memakai ban kapten pelangi bertuliskan "One Love".

Tak hanya ban kapten "One Love", semua yang bernuansa pelangi dan menjadi simbol sebuah gerakan juga dilarang oleh otoritas Qatar selaku tuan rumah Piala Dunia 2022.

Reaksi bermunculan atas larangan memakai ban kapten tersebut. Respons paling ikonik dilakukan timnas Jerman dalam pertandingan.

Memainkan laga pertama Piala Dunia 2022 dengan melawan Jepang, Rabu (23/11/2022), seluruh pemain Jerman kompak memamerkan pose tutup mulut saat sesi foto tim.

Federasi sepak bola Jerman (DFB) menyebut bahwa aksi tersebut dalam rangka memprotes Qatar yang melarang ban kapten pelangi dipakai dalam pertandingan.

"Melarang memakai ban kapten itu sama dengan membungkam mulut kami. Hak asasi manusia adalah hal yang tidak bisa dinegosiasi," tulis DFB dalam pernyataan resminya.

Lalu, apa makna ban kapten pelangi One Love itu sampai timnas Jerman begitu kekeuh memakai simbol tersebut?

Dilansir dari berbagai sumber, berikut sejarah dan makna ban kapten pelangi One Love:

Sejarah One Love

Jauh sebelum kata One Love diasosiasikan dengan simbol LGBT, orang-orang kulit hitam di Afrika sudah lebih dulu menyuarakan.

Dilansir dari Daun.id, aktivis asal Jamaika Marcus Garvey, disebut sebagai orang pertama yang mencetuskan kata One Love.

Dalam sebuah pidato pada 1924, Marcus Garvey membakar semangat masa dengan pekikan, "Cari aku di angin puyuh! Satu Tuhan! Satu tujuan! Satu takdir! (One God! One Aim! One Destiny!)".

One Love kemudian makin populer di kalangan Rastafarian di Jamaika. Oleh mereka, kalimat Garvey tadi dikembangkan menjadi Satu Cinta, Satu Hati, Satu Takdir (One Love, One Heart, One Destiny).

Kata itu kemudian disebarkan melalui musik reggae, musik khas Jamaika. Pada 1965 grup band The Wailers merilis lagu berjudul "One Love" dengan salah satu liriknya berbunyi "one love, one heart, let's get together, and feel okay".

Pada 1977, legenda musik reggae Bob Marley merilis ulang lagu tersebut dan terus didengarkan hingga saat ini.

Mulanya, Marcus Garvey menyebut One Love sebagai gerakan solidaritas orang-orang kulit hitam di seluruh dunia.

Lewat gerakan itu Garvey ingin menyerukan bahwa penindasan terhadap keturunan Afrika yang banyak terjadi di Amerika dan Eropa harus dihapuskan.

Bob Marley memperluas makna One Love sebagai kerukunan antara orang-orang dari seluruh ras yang ada di dunia. Tak peduli kulit hitam, kulit putih, atau keturunan mana pun, Bob Marley ingin tercipta harmoni di antara semuanya.

Makna One Love terus bergeser seiring berjalannya waktu. Kini kata tersebut juga diasosiasikan dengan gerakan pro LGBT.

Kaum LGBT mengambil semboyan One Love dengan dasar bahwa cinta bukan hanya untuk lawan jenis (pria dan wanita), namun juga sesama jenis.

Menurut mereka, setiap orang berhak memiliki hubungan dengan siapa saja atas dasar cinta. Gerakan ini diterima baik di Eropa, Amerika, dan Australia. Sementara di Asia dan Afrika gerakan ini kurang populer.

One Love dalam Sepak Bola

Dilansir dari Evening Standard, ban kapten One Love pertama dipakai oleh Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB) pada 2020.

Mengutip KNVB, One Love telah berkembang semula kampanye menjadi program profesional yang berfokus menawarkan pelatihan tentang keragaman.

Kampanye One Love mulanya dipasang di papan iklan stadion sepak bola ketika timnas Belanda berlaga.

Logo One Love juga dikenakan di jersey pertandingan final Dutch Super Cup yang mempertemukan Ajax dan PSV. One Love adalah bagian dari Ons Voetbal is van Iedereen yang artinya, sepak bola kita milik semua orang.

Kampanye One Love didukung oleh KNVB dan pemerintah Belanda serta perwakilan dari dua liga nasional pria Eredivisie CV dan Keuken Kampioen Divisie. Ada pula perwakilan liga nasional wanita Azerion Vrouwen Eredivisie.

Program itu berisi dua puluh bagian dan berfokus empat poin, kesadaran, identifikasi, sanksi, dan kerja sama.

Ban kapten One Love menjadi ikon promosi pesan perdamaian untuk komunitas LGBT. Ditandai dengan simbol hati berwarna pelangi dengan angka 1 di dalamnya. Kampanye itu bertujuan untuk menolak kriminalisasi terhadap perbedaan khususnya LGBT.

Pada September 2022, sebanyak 10 negara Eropa setuju untuk mengenakan ban kapten One Love. Tidak hanya selama Piala Dunia 2022 di Qatar, tapi juga UEFA Nation League tahun 2023.

Akan tetapi di Piala Dunia 2022 Qatar yang menjadi tuan rumah dengan tegas melarang ban kapten One Love berwarna pelangi dipakai dalam pertandingan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

piala dunia 2022 One Love LGBT Ban Kapten
Editor : Taufan Bara Mukti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top