Berharga Triliunan Rupiah, Nicolas Pepe Ternyata Pernah Hidup Miskin

Berharga Triliunan Rupiah, Nicolas Pepe Ternyata Pernah Hidup Miskin
Newswire
Newswire - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  15:56 WIB
Berharga Triliunan Rupiah, Nicolas Pepe Ternyata Pernah Hidup Miskin
Nicolas Pepe - Hitc

Bisnis.com JAKARTA - Nicolas Pepe kini resmi berstatus sebagai pemain Arsenal. Pemain keturunan Pantai Gading itu diboyong dari klub lamanya, Lille, dengan nilai transfer mencapai 72 Juta Poundsterling atau sekitar Rp 1,22 Triliun.

Pepe tak memungkiri karir cemerlang yang kini dia raih di panggung sepak bola adalah berkat cinta dari orang-orang di sekitarnya. Berkat mereka, ia berhasil menjadi pemain dengan bayaran tidak murah.

Orang tuanya merupakan imigran dari Pantai Gading yang tinggal di bagian timur laut Perancis. Ayahnya bekerja sebagai penjaga rumah tahanan, sementara ibunya seorang asisten rumah tangga. Masa kecil Pepe dilalui dalam kondisi keluarga miskin, bahkan sering kali orang tuanya tak punya uang untuk makan sehari-hari.

Meski kondisi keluarganya seperti itu, Pepe tak patah semangat untuk meraih cita-citanya menjadi pemain sepak bola profesional. Saat berusia 6 tahun, gurunya bertanya apa cita-citanya, dengan tegas dia menjawab ingin menjadi pesepak bola.

Kesempatan Pepe untuk bisa mewujudkan mimpinya terbuka setelah keluarganya memutuskan pindah ke Poitiers, bagian barat Perancis. Di sana, Pepe bergabung dengan klub lokal tingkat kelima Prancis. Ia pun berhasil memukau pelatih dengan kelincahannya bermain bola.

Kemampuan Pepe bermain bola tak bisa dilepaskan dari peran sang ayah yang merupakan pemain sepak bola amatir. Seperti dilansir dari thesun.co.uk, ayahnya bahkan sengaja meluangkan waktunya di sela bekerja demi melatih Pepe. Ketika masuk akademi klub Angers, bakatnya bermain bola semakin ditempa.

Abdel Bouhazama, dalam sebuah wawancara, mengungkapkan bahwa Pepe memperlihatkan keinginan yang keras terhadap sepak bola. Ketika bergabung pada 2013, dia tetap belajar keras meski sebenarnya memiliki bakat yang mumpuni. Pepe harus belajar sepak bola secara mendalam, bukan hanya seputar permainan yang menyenangkan – bahwa ada juga gol, assist dan disiplin.

Pepe harus berlari pada pagi hari bersama petugas kebersihan yang sedang bekerja. Seperti dilansir bleacherreport.com, Pepe menyadari kenyataan bahwa dia bisa bermain sepak bola untuk mencari nafkah.

Kerja keras Pepe membuahkan hasil. Pada November 2016, Luis Campos yang saat itu tengah membujuk pengusaha blasteran Spanyol-Luksemburg, Gerrard untuk membeli Lille, melihat Pepe bermain pada laga Angers melawan Rennes dengan hasil imbang 1-1. Mantan pencari bakat untuk Real Madrid itu awalnya menonton pertandingan itu untuk melihat pemain Rennes, tetapi setelah melihat Pepe, justru tertarik kepadanya.

"Saya dengan cepat jatuh cinta padanya," kata Campos kepada France Football seperti yang dilansir dari bleacherreport.com. Campos merasa Pepe bisa menggantikan Eden Hazard yang sebelumnya sempat membawa Lille mencapai masa kejayaannya.

Sempat menjadi striker tengah, posisi Nicolas Pepe berubah saat bergabung dengan Lille. Pelatih baru Lille saat itu, Christophe Galtier memberinya posisi baru sebagai pemain sayap kanan. Ternyata, di posisi baru itu Pepe kian cemerlang. Ia berhasil mencetak delapan gol dan lima assist selama 14 pertaningan terakhir di musim 2018/2019. Dua gol yang ia lesakkan ke dalam gawang Toulouse sukses membuat klubnya unggul 3–2 atas Touluse, dan menyelamatkan Lille dari zona kritis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
arsenal

Sumber : Tempo

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top