PIALA DUNIA 2018: Mengenal Teknologi Garis Gawang yang ‘Selamatkan’ Perancis saat Lawan Australia

Bisnis.com, JAKARTA Laga antara Perancis melawan Australia di babak penyisihan Grup C Piala Dunia 2018 semalam membuka mata dunia terhadap teknologi garis gawang atau goal line technology (GLT).
Anggi Oktarinda | 17 Juni 2018 13:39 WIB
Seorang presenter memegang bola yang digunakan pada Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Laga antara Perancis melawan Australia di babak penyisihan Grup C Piala Dunia 2018 semalam membuka mata dunia terhadap teknologi garis gawang atau goal line technology (GLT).

Teknologi garis gawang membantu tim racikan pelatih Didier Deschamps itu meraih 3 poin kemenangan atas Australia, dengan skor akhir 2-1.

Goal penentu kemenangan yang disepak Paul Pogba pada menit ke-81, sempat mengenai mistar gawang, jatuh, kemudian memantul kembali dan ditangkap oleh kiper the Socceroos.

Pogba sepertinya tampak tidak menyangka bahwa tendangannya itu ternyata masuk ke dalam gawang. Terlihat dari ekspresinya yang tidak percaya dan lupa melakukan tarian ritualnya saat sukses menjebol gawang lawan.

Namun, melalui teknologi garis gawang, tampak jelas bola tersebut jatuh ke dalam area gawang, sebelum kemudian memantul dan ditangkap oleh Kiper Mathew Ryan.

Teknologi garis gawang atau GLT dikenal juga dengan istilah goal decision system atau sistem keputusan gol. Teknologi ini muncul dilatarbelakangi situasi sulit yang kerap terjadi untuk menentukan apakah bola sudah melewati mistar gawang atau belum ketika terjadi kasus-kasus tertentu. Sebab, dalam sejumlah kasus, gol tidak selalu menggoyang jaring gawang secara jelas.

GLT menggunakan perangkat elektronik untuk menentukan kapan bola benar-benar secara utuh telah melewati mistar gawang. IFAB mewajibkan GLT untuk tidak mengganggu jalannya permainan.

Oleh karena itu, hanya wasit dan hakim garis permainan yang menerima sinyal di jam tangan mereka, jika ada indikasi bola melewati garis gawang. Informasi ini ditransmisikan dalam waktu satu detik, untuk memastikan secara langsung respon dari wasit, sehingga tidak ada penghentian atau bentuk gangguan lain dalam permainan. Informasi ini hanya tersedia untuk para hakim pertandingan, kecuali pihak penyelenggara pertandingan memutuskan untuk menyiarkannya.

Namun, karena biayanya yang tinggi, GLT hanya digunakan pada pertandingan-pertandingan di level yang tinggi, seperti pada liga-liga domestik Eropa, kompetisi internasional utama seperti Piala Dunia Wanita 2015, serta teranyar di Piala Dunia 2018.

Penggunaan GLT juga tidak bisa sembarangan. Ada sejumlah hukum dan syarat yang harus dipenuhi untuk penggunaan GLT. Bahkan, hukum permainan mewajibkan wasit menguji sistem GLT terlebih dahulu sebelum pertandingan dimulai. Kemudian, apabila selanjutnya ditemukan kesalahan, wasit wajib dan tidak menggunakan teknologi ini.

Hanya sistem yang dinyatakan lulus dalam program pengujian FIFA yang diperbolehkan dipakai dalam permainan. Selain itu, instalasi sistem GLT yang dipasang di stadion tertentu juga harus lulus tes.

Dibandingkan dengan teknologi serupa di jenis olah raga lain, GLT di dunia sepakbola relatif masih baru. Teknologi ini baru secara resmi disetujui oleh Dewan Asosiasi Sepakbola International (International Football Association Board atau IFAB) pada Juli 2012. Saat itu, IFAB juga mengamandemen undang-undang permainan untuk mengizinkan, tetapi tidak mengharuskan penggunaannya.

Sebelumnya, penggunaan GLT sempat menimbulkan pro dan kontra. Pasalnya, sempat ada anggapan bahwa teknologi ini untuk menggantikan peran para hakim garis. Namun, tujuan sesungguhnya dari teknologi ini adalah untuk membantu wasit mengambil keputusan.

Dan, itu terbukti pada laga antara Perancis melawan Australia di Stadion Kazan Arena, Rusia, pada Sabtu (16/7/2018) malam. Tim Ayam Jamtan mampu unggul 2-1 atas Australia dan mengamankan 3 poin untuk melaju ke babak selanjutnya Piala Dunia 2018.

Tag : piala dunia 2018
Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top