PIALA DUNIA 2018: Rasa Belanda di Tim Maroko

Lima pemain kelahiran Belanda kemungkinan besar akan masuk tim inti Maroko ketika mereka memulai perjuangannya di Grup B melawan Iran di St Petersburg pada Jumat, memastikan adanya kesempatan bagi publik Belanda untuk mengikuti ajang itu dengan lebih dari sekadar menjadi penonton biasa.
Martin Sihombing | 12 Juni 2018 17:50 WIB
Lima pemain kelahiran Belanda kemungkinan besar akan masuk tim inti Maroko ketika mereka memulai perjuangannya di Grup B melawan Iran di St Petersburg pada Jumat (15/6/2018) - Reuters

Bisnis.com, MOSKOW -  Ketika Belanda duduk menyaksikan Piala Dunia dimulai di Rusia pada Kamis, absennya tim dengan warna kebesaran jingga dari 32 negara peserta akan menjadi semakin pahit seandainya mengenang betapa mereka telah tertinggal dari negara-negara elite sepak bola lainnya.

Bagaimana pun, lima pemain kelahiran Belanda kemungkinan besar akan masuk tim inti Maroko ketika mereka memulai perjuangannya di Grup B melawan Iran di St Petersburg pada Jumat, memastikan adanya kesempatan bagi publik Belanda untuk mengikuti ajang itu dengan lebih dari sekadar menjadi penonton biasa.

Terjadi perayaan di jalan-jalan di kota-kota Belanda ketika Maroko mengamankan tiket mereka ke turnamen akbar yang dilakukan komunitas beranggotakan 400.000 orang di Belanda, dan liputan media dalam beberapa pekan terakhir telah memberi nuansa bahwa seluruh negeri telah mengadopsi tim itu untuk turnamen di Rusia.

Kontingen kelahiran Belanda telah menjadi bagian dari tim Maroko selama lebih dari satu dekade, dan kuintet Mbark Boussoufa, Karim El Ahmadi, Hakim Ziyech, dan Amrabat bersaudara -- Nordin dan Sofyan -- kemungkinan besar akan menikmati peran yang menjanjikan di Rusia.

Pemain-pemain kelahiran Eropa yang didapat dari diaspora, kini mendominasi banyak tim nasional Afrika yang secara aktif memang dicari untuk memperkuat tim. Bagi sejumlah pemain, ini merupakan pilihan sulit dengan mempertimbangkan karier internasional mereka.

Di Belanda, terdapat isu mengenai pemain-pemain kelahiran Belanda yang terpilih untuk bermain bagi negara-negara lain bahwa hal itu merupakan "suatu bentuk pengkhianatan." Ziyech sempat dipanggil masuk timnas tiga tahun yang lalu oleh Guus Hiddink, ketika ia masih menjadi pelatih Belanda, namun mengundurkan diri karena cedera dan tidak pernah mendapatkan panggilan lainnya. Ia kemudian memilih untuk membela Maroko.

Lebih sedikit kritik "Ini berjalan sebagaimana mestinya, dan saya sama sekali tidak menyesal," kata Ziyech. "Bersama Maroko saya merasa dinilai. Tidak ada pencarian konstan untuk kritik sebagaimana di Belanda." "Saya tumbuh di Belanda namun saya harus berkata jujur bahwa ketika saya mendengar lagu kebangsaan Maroko, saya merasakan hubungan dengan negara itu," kata Ahmadi pada konferensi pers terkini.

Piala Dunia menawarkan kesempatan bagi Belanda untuk mengesampingkan perdebatan mengenai kewarganegaraan ganda, dan di mana loyalitas mereka semestinya diberikan, dan secara kolektif mendukung lima pemainnya, bahkan jika mereka mengenakan kaus merah dan hijau Maroko, dan bukannya jingga.

"Saya berharap bahwa Belanda solid mendukung kami," tambah El Ahmadi.

"Seperti saya, untuk tahun-tahun ini, telah mendukung tim nasional Belanda di Piala Dunia ketika Maroko tidak berpartisipasi. Menurut saya jika kami saling bertemu, kami semua dapat merasa bangga."

Sumber : ANTARA/REUTERS

Tag : piala dunia 2018
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top