Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Finansial Tertekan, Tottenham Hotspur Pinjam Rp3 Triliun dari CCFF

Tottenham Hotspur meminjam 175 juta pound sterling (Rp3,08 triliun) dari Bank of England, bank sentral Inggris, melalui skema CCFF.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  23:46 WIB
Bendera Tottenham Hotspur - Reuters
Bendera Tottenham Hotspur - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Klub Liga Primer Tottenham Hotspur meminjam 175 juta pound sterling (Rp3,08 triliun) dari Bank of England, bank sentral Inggris, untuk mengurangi tekanan pada keuangan klub akibat krisis virus corona.

Pandemi Covid-19 memengaruhi kondisi finansial berbagai klub tanpa pendapatan dari pertandingan karena permainan dibatalkan dan kelak digelar tanpa penonton menyaksikan langsung di stadion.

Menurut The Athletic yang dikutip Daily Mail pada Kamis (4/6/2020), Spurs memanfaatkan skema Covid Corporate Financing Facility (CCFF) yang disiapkan pemerintah, yakni pinjaman tanpa jaminan yang dibayar penuh dengan bunga hanya 0,5 persen per tahun.

Tottenham berpotensi kehilangan lebih dari 200 juta pound (Rp3,52 triliun) akibat kehancuran ekonomi lantaran pandemi corona. Mereka harus membayar kembali pinjaman CCFF paling lambat April 2021.

CCFF disiapkan Pemerintah Inggris sejak Maret 2020 untuk membantu bisnis melewati gangguan yang disebabkan oleh pandemi corona. Produsen roti Greggs, perusahaan ritel Marks & Spencers, serta maskapai besar Easy Jet termasuk yang telah memanfaatkan skema ini.

Untuk mendapatkan dana CCFF, perusahaan harus memenuhi persyaratan yang ketat. Mereka harus memiliki peringkat kredit tingkat investasi untuk memastikan dapat memenuhi komitmen keuangan dan membuat kontribusi penting bagi perekonomian Inggris.

Manchester United dianggap sebagai satu-satunya tim papan atas lain di Liga Primer Inggris yang mampu memenuhi syarat untuk skema CCFF.

Pandemi corona telah menghancurkan perekonomian Inggris dan disebut-sebut merupakan yang paling buruk dalam 300 tahun terakhir.

Inggris menjadi negara paling tinggi tingkat kematian akibat corona dibandingkan dengan populasi, bahkan lebih parah dibandingkan dengan Amerika Serikat yang dilihat dari jumlahnya mencatat korban meninggal dunia terbanyak terkait dengan Covid-19.

Berdasarkan data European Centre for Disease Prevention and Control hingga Kamis siang WIB, kematian terkait dengan Covid-19 di Britania Raya termasuk Inggris mencapai 39.728 orang, hanya lebih sedikit dibandingkan dengan Amerika Serikat yang mencapai 108.703.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tottenham Virus Corona

Sumber : Daily Mail

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top