Guardiola: Perlu Liga Kelas Dua untuk Pemain Muda

Pelatih Manchester City Pep Guardiola mengusulkan perlunya liga kelas dua di Inggris untuk memberi kesempatan kepada para pemain muda memperlihatkan kemampuan.
M. Syahran W. Lubis | 09 Januari 2019 07:09 WIB
Pelatih Manchester City Pep Guardiola - Reuters/Carl Recine

Bisnis.com, JAKARTA – Pelatih Manchester City Pep Guardiola mengusulkan perlunya liga kelas dua di Inggris untuk memberi kesempatan kepada para pemain muda memperlihatkan kemampuan dan tidak mesti langsung bersaing dengan para senior mereka berebut tempat di tim pertama.

Mantan pemain FC Barcelona itu mengemukakan hal tersebut menjawab tudingan bahwa dia kurang memberi menit bermain untuk para pemain muda sehingga dua bakat yang dianggap bakal besar telah meninggalkan ManCity dan berlabuh di klub lain.

Pada jendela transfer musim dingin Januari ini, Brahim Diaz Abdelkader, 19 tahun, meninggalkan The Citizens untuk bergabung dengan Real Madrid. Sebelumnya, pada bursa transfer musim panas tahun lalu, Jadon Malik Sancho, 18 tahun, lebih dahulu ke Borussia Dortmund.

Ironis bagi Guardiola, karena Malik Sancho di Dortmund mampu bermain hebat setelah mendapat kesempatan menit bermain yang memadai dari pelatih Lucien Favre. Bahkan, karena penampilan ciamiknya, dia dipanggil pelatih Timnas Inggris Gareth Southgate masuk skuat Three Lions.

Menanggapi pernyataan Guardiola bahwa diperlukan liga kelas dua untuk membuka kesempatan bagi para pemain muda untuk menunjukkan kelasnya, wartawan mengingatkannya bahwa telah ada FA (Football Association) Youth.

Namun, menurut sang pelatih asal Spanyol itu, kompetisi berformat sistem gugur atau knock out tersebut tidak cukup. Yang diperlukan, lanjutnya, adalah liga.

Dia juga berkeras menolak dipersalahkan atas kepergian Brahim Abdelkader Diaz dan Jadon Malik Sancho dari Stadion Etihad, markas City. Menurutnya, kedua pemain tersebut yang tidak memilih tinggal di ManCity.

“Saya tidak bisa bekerja sama dengan pemain yang tidak mau tinggal bersama kami. Kenyataannya, Phil Foden memilih tetap bersama City,” ungkap Guardiola tentang gelandang berusia 18 tahun yang masuk tim pertama sejak 2017 dan kini memiliki catatan 13 pertandingan di level senior.

Dia menambahkan, “Anda melihat David Silva, dia tidak langsung masuk tim pertama, perlu waktu, sulit untuk langsung bersaing dengan pemain yang lebih senior.”

Sebenarnya, pernyataan Guardiola mengenai perlunya liga kelas dua, telah diterapkan di negara asalnya, Spanyol, dan juga di Belanda, walaupun tidak secara penuh.

Beberapa klub di Spanyol dan Belanda memiliki tim B yang mereka berkompetisi di kasta yang lebih rendah daripada Divisi Primer La Liga dan Eredivisie. Mereka bertarung melawan tim-tim lain yang berisikan tim senior, bukan hanya tim B.

Contohnya di Spanyol, Barcelona, Real Madrid, Atletico Madrid, Sevilla, Valencia, Celta Vigo, Athletic Bilbao, Villarreal, Espanyol, Real Sociedad, Real Valladolid, Las Palmas, Almeria, Granada, dan Malaga mempunyai tim kedua yang bertarung di Segunda B (divisi 3).

Tim-tim itu, jika mampu mencapai Segunda (divisi 2) dan selanjutnya mengisi slot promosi ke Divisi Primer La Liga, tidak akan melaju ke kompetisi kasta tertinggi. Mereka maksimal hanya mencapai Segunda. Kalau pun juara Segunda, tim senior lain di bawahnya yang promosi ke Divisi Primer.

Sementara itu di Belanda, dua klub kuat, Ajax Amsterdam dan PSV Eindhoven memiliki tim “Jong” (Pemuda). Jong Ajax dan Jong PSV ini main di Eerste (divisi 2). Kalau pun berhak promosi ke Eredivisie (kompetisi teratas), sebagaimana Jong Ajax musim lalu, mereka tetap tinggal di Eerste.

Sumber : Reuters

Tag : liga inggris, manchester city
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top