Ini Peran Empat Terduga Mafia Pengatur Skor Bola yang Diamankan Polisi

Keempatnya merupakan nama-nama yang disebut oleh manajer dari tim Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani, yang buka-bukaan terkait mafia pengatur skor bola dalam acara televisi bertajuk Mata Najwa.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 28 Desember 2018  |  18:51 WIB
Ini Peran Empat Terduga Mafia Pengatur Skor Bola yang Diamankan Polisi
Ilustrasi - Jibiphoto

Bisnis.com, JAKARTA — Satu minggu sejak dibentuk Kepolisian Republik Indonesia, Satgas Anti Mafia Bola kini telah mengamankan empat orang terduga pengatur skor.

Di antaranya, Komite Eksekutif PSSI Johar Ling Eng, anggota Komite Disiplin PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih, serta terduga mafia pengatur skor bola dari Jawa Tengah, Priyanto dan Anik Yuni Artikasari.

Keempatnya merupakan nama-nama yang disebut oleh manajer dari tim Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani, yang buka-bukaan terkait mafia pengatur skor bola dalam acara televisi bertajuk Mata Najwa.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengungkap pihak kepolisian telah membuktikan peran dari para terduga pelaku. Hal ini dilakukan untuk membuktikan peenyataan Lasmi dalam acara yang dibawakan oleh presenter Najwa Shihab itu.

Dalam acara tersebut, Lasmi menyebut Johar menerima Rp25 juta untuk membantu Persibara memenangi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), ditambah Rp25 juta lagi dengan janji bahwa Persibara yang kini berada di Liga 3, sanggup naik kasta ke Liga 2.

Argo mengungkapkan Johar memang punya kuasa untuk "mengatur" pertandingan. Johar disebut berkomunikasi dengan Priyanto, anggota Komite Wasit PSSI.

"Peran dari pada J ini dia kan di Jawa Tengah dia bisa menentukan klub di kelompok mana, misalnya delapan klub [masuk] dalam 4 grup, dia bisa menentukan, yang dia pilih, yang sudah komunikasi dengan dia, ditaruh di grup yang ringan. Dia bisa juga menentukan hari apa mainnya, jam berapa mainnya, ada semua dia, dan kemudian, dari J ini dia menyuruh komunikasi ke P," jelas Argo, Jumat (28/12/2018).

Argo mengungkapkan Priyanto memiliki peran sebagai oknum yang bisa mengatur keberpihakan wasit dalam pertandingan sepak bola.

Barang bukti transaksi yang diungkap Lasmi pun menyebut pihak Persibara telah mengeluarkan total Rp186 Juta untuk urusan perwasitan, dan belum termasuk akomodasi yang mereka sediakan kepada para wasit, seperti transportasi dan biaya hotel tempat menginap.

"P mantan komisi wasit. P tahu, artinya ada 35 wasit, jadi dia tahu, tidak semua wasit bisa diajak kompromi. Tetapi tertentu saja [ada] yang [bisa] diajak sama dia. Jadi kalau klub sudah komunikasi dengan dia, tinggal ditentukan wasitnya siapa," jelas Argo.

Sedangkan untuk tersangka Anik Yuni Artikasari, Lasmi menyebut Anik merupakan jalur komunikasi dan pengatur transaksi terkait pengaturan skor. Laami menilai, hal ini mulai terlihat ketika Anik diminta oleh Priyanto untuk menjadi asisten pribadi Lasmi.

"Nah, kemudian untuk tersangka A, anaknya wasit futsal. Peranannya asisten dari pelapor di Banjarnegara, dia menerima juga uang dari pelapor, intinya setiap pertandingan mengeluarkan uang, Rp100 juta sampai Rp200 juta di sana dibagi yang terima si A, nanti dia dikirim ke P nanti ngirim ke C," ungkap Argo.

Terakhir peran dari Dwi Irianto alias Mbah Putih diduga ikut menerima aliran dana dari setiap klub yang terlibat pengaturan skor. Dalam kasus Persibara, Mbah Putih tercatat menerima Rp10 juta untuk mengamankan laga Persibara Banjarnegara kontra Persik Kediri.

Argo menyatakan Dwi kini masih menjalani pemeriksaan untuk dimintai keterangan. Dwi yang ditangkap di salah satu hotel di Yogyakarta dan ketika iru juga dikirim ke Jakarta.

"Kemudian juga tadi pagi kami menangkap tsk satu lagi inisial DI," ujar Argo.

"Jadi ini [DI] baru nyampe tadi sekitar pukul 02.00 tadi. Sekarang masih dalam pendalaman penyidik, kami periksa di Polda Metro Jaya," ujar Argo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sepakbola

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup