Ini Dia Relawan Tertua di Piala Dunia 2018

Sejak Piala Dunia pertama diselenggarakan pada tahun 1930, telah ada 21 edisi turnamen digelar.
Mia Chitra Dinisari | 26 Juni 2018 09:11 WIB
Ludmila Kharyova, relawan tertua di Piala Dunia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Sejak Piala Dunia pertama diselenggarakan pada tahun 1930, telah ada 21 edisi turnamen digelar.

Sepanjang 21 kali digelar tersebut, Ludmila Kharyova ikut serta di dalamnya sebagai relawan, dan dia hanya absen dalam satu kali turnamen skala dunia tersebut.

Jadi, ketika negara kelahirannya menjadi tuan rumah, maka perempuan berusia 86 tahun itu pastinya tidak akan melewatkan kesempatan untuk ikut serta di dalamnya. Ini menjadikannya sebagai relawan tertua di Piala Dunia 2018.

Kharyova yang bekerja di kios di sebuah desa nelayan tua bersejarah di Kaliningrad, sangat bersemangat pergi ke pusat kota untuk membantu para pendukung Spanyol yang tiba untuk menyaksikan pertandingan Grup B melawan Maroko.

"Saya sangat senang mengetahui kejuaraan akan berlangsung di Rusia dan Kaliningrad," kata Kharyova seperti dikutip Reuters.

"Di Kaliningrad sendiri, akan digelar empat pertandingan dan salah satunya adalah antara Spanyol dan Maroko dan saya tahu Spanyol dan jika saya bisa membantu ini adalah keuntungan terbaik bagi saya untuk ambil bagian di Piala Dunia." tambahnya.

Dengan memakai topi baseball berwarna biru dan jaket sukarelanya, Kharyova yang mungil, mengakui bahwa dia bukan penggemar fanatik sepak bola tetapi mengikuti olahraga ini seperti yang dilakukannya banyak orang lainnya.

Perempuan yang lahir pada Mei 1932 itu mengatakan salah satu pemain favoritnya tentu saja Pemain asal Portugal Cristiano Ronaldo."Saya tahu Ronaldo dan dia tampaknya sangat baik," Saya akan mendukungnya melalui Piala Dunia," tuturnya.

Meski mengidolakan Ronaldo, namun dia mengaku tim jagoannya adalah Spanyol dan tentu saja negara asalnya Rusia.

Semasa muda, Kharyova belajar di di Institut Leningrad (sekarang St. Petersburg) tetapi menghabiskan 60 tahun terakhir di Kaliningrad, daerah kantong kecil Rusia di Laut Baltik yang diapit antara Polandia dan Lithuania.

Dia pernah bekerja sebagai penerjemah, membantu sebagian besar siswa Kuba yang datang untuk belajar di Rusia. Dia kemudian bekerja di industri perikanan, bertugas mencari kru untuk kapal yang menjaring laut.

Dia juga sempat mengalami masa saat Perang Dunia II dan ketegangan Perang Dingin. Dia menyaksikan runtuhnya Uni Soviet, glasnost (praktek pemerintahan konsultatif yang lebih terbuka) dan perestroika (mereformasi sistem ekonomi dan politik Soviet).

Karena kepentingan strategisnya sebagai pangkalan untuk Armada Baltik Soviet selama Perang Dingin, Kaliningrad adalah kota tertutup bagi orang asing. Oleh karena itu Kharyova sangat senang bisa merasakan kegembiraan Piala Dunia.

"Saya anak perang," kata Kharyova. “Saya berada di kelas satu ketika Menteri Luar Negeri Soviet, (Vyacheslav) Molotov mengatakan Jerman telah menyerang Uni Soviet," kisahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rusia, piala dunia 2018

Sumber : Reuters

Editor : Mia Chitra Dinisari
Top