Jumlah Tendangan Penalti, VAR Jadi Faktor Utama

Jumlah Tendangan Penalti, VAR Jadi Faktor Utama
Newswire | 24 Juni 2018 19:44 WIB
Teknologi VAR atau Video Assistant Referee - Sporting News

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah tendangan penalti yang dihasilkan pada 28 pertandingan pertama Piala Dunia 2018 di Rusia lebih banyak daripada empat tahun lalu di Brasil.

Tendangan penalti Carlos Vela dalam pertandingan Meksiko melawan Korea Selatan, Sabtu, 23 Juni, adalah penalti ke-14 dalam 28 partai perdana di Rusia 2018. Itu artinya sekarang ada sebuah penalti dalam setiap dua pertandingan. Sebelas tendangan eksekusi penalti di antaranya berhasil menghasilkan gol.

Pemain Belgia, Eden Hazard, juga mencetak gol dari hadiah penalti yang mereka terima setelah perangkat video assistant referee (VAR) yang dipakai untuk mendukung kinerja wasit mulai di Rusia 2018 ini menunjukkan ada pelanggaran di kotak penalti Tunisia, Sabtu lalu. Dalam pertandingan itu, Belgia menang 5-2.

Di Brasil empat tahun lalu, hanya ada 13 penalti sepanjang turnamen. Rekor penalti di Piala Dunia terjadi pada 2002, yaitu sebanyak 18 kali.

Peran VAR ikut meningkatkan peningkatan penalti tersebut. Alat ini mengingatkan pada rekaman video dalam pertandingan tenis profesional yang sudah jauh lebih dulu digunakan, setidaknya dalam 10 tahun terakhir.

Seorang petenis yang merasa keputusan wasit terhadap pukulannya tidak benar bisa meminta pemutaran rekaman pertandingan saat itu juga.

Di sepak bola, keputusan untuk melihat rekaman VAR saat itu juga bukan ditentukan oleh pemain atau tim, melainkan wasit, yang didukung para asisten serta panitia pertandingan.

Dalam 28 pertandingan perdana Piala Dunia 2018 ini, enam penalti diputuskan wasit menyusul pengamatan dari rekaman VAR. Alat itu juga mendukung keputusan lain dari wasit di lapangan pada beberapa kali kesempatan.

Di sisi lain, pemakaian VAR juga membuat wasit bisa membatalkan keputusan sebelumnya untuk penalti. Hal itu terjadi pada pertandingan Brasil melawan Kosta Rika, Jumat lalu. Rekaman dari VAR menunjukkan tidak adanya pelanggaran pemain Kosta Rika terhadap Neymar.

Direktur Wasit Asosiasi Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Massimo Busacca mengatakan sebelum turnamen dimulai di Rusia bahwa pemakaian VAR tidak akan sempurna selama pergelaran ini dan mesti terus diperbaiki. Keputusan yang tidak konsisten membuat banyak tim dan suporter frustrasi.

Tim Brasil dan Inggris merasa VAR seharusnya dipakai untuk menganalisis keputusan penalti dalam jadwal partai-partai pembukaan.

Sementara itu, pelatih Australia, Bert van Marwijk, marah terhadap pemakaian VAR ketika mereka dikalahkan Prancis.

“Saya berharap pada satu waktu bakal ada seorang wasit yang sangat jujur,” kata pelatih asal Belanda itu, yang tidak pernah setuju dengan pemakaian teknologi VAR.

“Bahasa tubuhnya menunjukkan ia tidak tahu, dari posisi saya. Kemudian Anda membuat satu keputusan.”

Namun FIFA, menurut manajer relasi medianya, Giovanni Marti, tetap yakin pemakaian VAR sudah sukses dan telah diterima komunitas sepak bola.

Salah satu yang menjadi kebingungan atau bias dari pemakaian VAR ini adalah sejauh mana ulasan dari perangkat teknologi ini dapat digunakan.

Sistem pemakaian VAR ini sekarang hanya berlaku untuk gol, penalti, kartu merah, dan identitas yang salah. Sistem itu tidak bisa digunakan untuk tendangan bebas, yang membuat sejumlah pemain frustrasi.   

Denmark menerima hukuman penalti dalam dua pertandingan Grup G. Penalti yang terakhir mereka terima saat melawan Australia, setelah wasit melihat rekaman VAR bahwa Yussuf Poulsen menyentuh bola dengan tangan di dalam kotak penalti tim mereka.

Namun Denmark yakin bahwa sebelumnya ada pelanggaran terhadap Poulsen yang menyebabkan bola tersentuh tangannya. “Setelah pertandingan itu, saya tidak suka dengan sistem VAR ini,” kata gelandang Denmark, Christian Eriksen.

Sumber : Tempo

Tag : piala dunia 2018
Editor : Andhika Anggoro Wening
Top