Piala Dunia 2018: Kisah Clifin Francis, Bersepeda dari Iran ke Rusia untuk Bertemu Messi

Kisah Clifin Francis, menjadi salah satu kisah menarik dari meriahnya perayaan pesta sepak bola dunia, Piala Dunia 2018.
Mia Chitra Dinisari | 21 Juni 2018 10:56 WIB
Clifin Francis - facebook

Bisnis.com, JAKARTA - Kisah Clifin Francis, menjadi salah satu kisah menarik dari meriahnya perayaan pesta sepak bola dunia, Piala Dunia 2018.

Betapa tidak, pria asal India ini rela bersepeda dari tanah kelahirannya ke Rusia, hanya untuk bertemu pemain idolanya, Lionel Messi.

Sebenarnya, rencana itu awalnya tidak sengaja. Siang itu, Clifin Francis sedang duduk di rumahnya yang terletak di India selatan ketika seorang teman bertanya apakah dia akan pergi ke Piala Dunia.

"Tentu saja," jawabnya. "Aku bahkan bisa bepergian ke Rusia untuk menyaksikan ekstravaganza." ujarnya menimpali ajakan sang kawan.
Kejadian itu terjadi pada bulan Agustus 2017 lalu. Namun, saat itu dia tidak tahu bagaimana akan membayar tiket pesawat dari Kerala tempat dia tinggal terbang ke Rusia. Mr

Francis sendiri adalah adalah seorang guru matematika dengan status freelance dengan penghasilan USUS$ 40 (£ 30) sehari.

"Aku sadar aku tidak punya cukup uang untuk bepergian ke Rusia dan tinggal selama sebulan. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri - apa cara termurah bepergian? Sepeda adalah jawabannya." urai Francis seperti dikutip BBC.com.

Saat dia melontarkan rencananya itu, hampir semua temannya tidak memercayainya. Namun tekad bulat sudah ditetapkannya.

Pada 23 Februari, ia memulai perjalanan epiknya. Awalnya, dia terbang memakai pesawat ke Dubai, dan dilanjutkan menumpang feri ke Iran. Dari sanalah, dia memulai petualangannya bersepeda menuju Moskow yang merupakan ibukota Rusia. Adapun jarak dari Iran ke Moskow sekitar lebih dari 4.200 km (2.600 mil) dengan sepeda.

Alasan Francis nekad melakukan petualangan tersebut adalah karena dia tergila-gila dengan sepak bola dan suka bersepeda.

Sepeda yang dipakainya, dibeli Francis di Dubai seharga US$700. Meski dianggapnya kurang memadai untuk perjalanan jarak jauh, namun menurutnya hanya segitulah kemampuannya untuk membeli saat itu.

Dari Dubai, dia tidak langsung bersepeda ke Rusia, melainkan tinggal hingga 45 hari di Iran sejak 11 Maret 2018, dengan alasan baginya saat itu Iran merupakan negara terindah di dunia dan orang-orangnya sangat ramah.

Saking ramahnya penduduk di sana, katanya, meskipun dia tinggal selama 45 hari, hanya dua hari dihabiskannya tidur di hotel. Selebihnya, banyak orang yang menampung di rumah mereka.

Apalagi, Francis hanya memiliki US$10 per hari untuk dibelanjakan, sehingga dia sangat bersyukur banyak penduduk yang memberikannya makanan dan tempat tinggal saat dia berada di sana.

"Persepsi saya tentang Iran telah berubah. Saya menyadari bahwa Anda seharusnya tidak membentuk opini tentang sebuah negara berdasarkan geopolitiknya," katanya.

Dia juga mengatakan bersepeda menjadi tidak melelahkan karena kondisi pedesaan Iran yang sangat indah, sehingga dia bisa menikmatinya.

"Mereka membuat saya berjanji bahwa saya akan mendukung tim Iran di Rusia. Mereka juga menyukai Bollywood dan itu membantu saya memecahkan kebekuan dengan orang-orang di banyak tempat," katanya.

Bersepeda membuatnya lebih kurus

Perjalanan bersepeda Francis dimulai dari Iran menuju Azerbaijan. Karena kebanyakan bersepeda, bobot tubuhnya menurun cukup drastis, sehingga sulit dikenali dengan foto yang ada di dokumentasi identitas diri yang dibawanya.

Karena masalah tersebut, Francis diperiksa lebih dari delapan jam untuk memastikan bahwa dia tidak memakai dokumen palsu.
Sama halnya seperti di Iran. Di sini pun dia tidak tinggal di hotel, namun lebih banyak tidur di tenda yang didirikannya sendiri. Francis juga banyak mendapatkan bantuan makanan dari warga sekitar.

Lanjut ke Georgia, masalah baru kembali muncul. Kali ini, dia ditolak masuk karena lagi-lagi masalah dokumen yang dimilikinya.
"Saya memiliki semua dokumen tetapi masih tidak tahu mengapa saya ditolak masuk. Itu membuat saya dalam situasi genting karena saya memiliki visa masuk tunggal untuk Azerbaijan," katanya.

Akhirnya, Fransiskus terjebak di "tanah tak bertuan" antara Georgia dan Azerbaijan selama sehari. Dia akhirnya diberi visa mendesak oleh Azerbaijan untuk masuk kembali.
Dia kemudian harus mencari rute lain untuk masuk ke Rusia. Berbekal informasi dari seseorang dimana Azerbaijan berbagi perbatasan darat dengan wilayah Dagestan di Rusia, kesanalah dia mengayuhkan sepedanya. Akhirnya sampailah dia di sana pada 5 Juni 2018.

Bahasa adalah masalah besar ketika dia tinggal di Dagestan, karena orang-orang jarang berbicara bahasa Inggris di Dagestan.
Namun, dengan "senjata" sepak bola dan film India akhirnya penduduk sekitarpun mulai terbuka padanya.

Dari Dagestan, dia melanjutkan perjalanan ke Tambov, sebuah kota sekitar 460 km di selatan Moskow melalui jalan darat.

Waktupun semakin mendesak, karena dia harus berada di Moskow pada 26 Juni untuk pertandingan Prancis vs Denmark. Karena itu satu-satunya pertandingan yang dia miliki tiketnya.

"Tapi saya mendukung Argentina dan Lionel Messi adalah favorit saya - saya memujanya. Ini impian saya untuk bertemu dengannya dan memintanya untuk menandatangani sepeda saya."

Clifin Francis berharap perjalanannya akan menginspirasi orang-orang tentang sepakbola dan kebugaran.

Dia juga berharap suatu saat bisa melihat timnas negaranya berlaga Piala Dunia.

Sumber : BBC

Tag : piala dunia 2018
Editor : Mia Chitra Dinisari
Top