Madrid vs Liverpool, Zidane di Antara Pesona, Senyuman, & Keberuntungan

Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane tak keberatan mengaku bukan pelatih dengan taktik terbaik, tetapi nyatanya jika timnya bisa mengatasi Liverpool di final Liga Champions, dia menjadi satu-satunya manajer yang mampu menjuarai kompetisi teratas Eropa tiga musim beruntun.
M. Syahran W. Lubis | 24 Mei 2018 14:24 WIB
Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane (tengah) dan keluarganya bergambar bersama trofi Liga Champions Eropa tahun lalu. - Reuters/Eddie Keogh

Bisnis.com, JAKARTA – Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane tak keberatan mengaku bukan pelatih dengan taktik terbaik, tetapi nyatanya jika timnya bisa mengatasi Liverpool di final Liga Champions, dia menjadi satu-satunya manajer yang mampu menjuarai kompetisi teratas Eropa tiga musim beruntun.

Pertandingan final Liga Champions Eropa musim ini akan digelar di Stadion Olimpiade di Kiev, Ukraina, pada Minggu (27/5/2018) mulai pk. 01:45 WIB dan direncanakan disiarkan secara langsung oleh SCTV.

Mantan gelandang Juventus, Madrid, dan Timnas Prancis ini menyamai pencapaian hebat pelatih Arrigo Sacchi, Alex Ferguson, Pep Guardiola, dan Jose Mourinho memenangi dua trofi Eropa kali, meski baru menukangi Madrid pada Januari 2016 dan tak meyakinkan saat memimpin tim cadangan Los Blancos.

Dengan keterbatasan bekal itu, Zidane mampu menutupi minimnya pengalaman dengan pesona dan senyuman serta pengetahuan yang tak ternilai tentang bagaimana rasanya bermain di level tertinggi, memimpin tim untuk delapan piala yang bisa menjadi sembilan di Kiev.

“Saya telah menjadi selama 18 tahun. Saya berhubungan dengan banyak pelatih, banyak pemain yang sangat bagus, banyak ego. Saya tahu ruang ganti dengan sangat baik dan tahu persis apa yang melintas di kepala pesepak bola,” ungkapnya.

"Itu sangat penting bagi saya, tetapi itu bukan satu-satunya. Ada banyak pekerjaan dan filosofi di balik ini. Saya bukan pelatih terbaik, bukan yang terbaik secara taktis, tetapi saya punya sesuatu yang lain, semangat dan harapan. Itu lebih berharga," ungkap lelaki berdarah Aljazair itu.

Apa yang diterapkan Zidane bertentangan dengan pendahulunya, Rafael Benitez. Pelatih asal Spanyol itu terkenal, tetapi tidak memiliki karier bermain dan hubungannya dengan para pemain Madrid sangat tegang yang berujung pada pemecatannya.

"Zidane memahami bagaimana mengelola ruang ganti yang rumit dengan sensitivitas tinggi. Kami senang dia menjadi kapten kapal ini dan saya berharap dia tetap berada di sini untuk waktu yang lama," kata kapten Madrid Sergio Ramos.

Namun, tidak semua sepenuhnya memihak Zinedine. Media Spanyol ada yang menyebutkannya dipayungi keberuntungan dengan hasil undian Liga Champions 2016 yang tidak terlalu berat.

Mantan rekan setimnya di Juventus, Alessandro de Piero, tahun lalu juga mengemukakan bahwa “Zidane tahun mengelola ruang ganti, tetapi dia tertolong dengan fakta bahwa skuatnya memang luar biasa, terbaik di dunia”.

Gelar juara Liga Champions kali ini akan menjadi penghibur yang jauh lebih bermakna setelah skuat Los Blancos gagal mempertahankan gelar di ajang Divisi Primer La Liga, finis dengan 17 angka di belakang sang juara FC Barcelona.

Sumber : Reuters

Tag : liga champions, real madrid
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top