China, Pasar yang Gurih Bagi Liga Eropa

Demam sepak bola di China, telah menarik minat liga-liga raksasa di Eropa untuk mengeruk cuan di negara berpenduduk 1,4 miliar itu, tak terkecuali Liga Spanyol dan Liga Inggris.
Yustinus Andri DP | 26 Juni 2017 21:33 WIB
Liga Inggris - www.livewire.ie

Bisnis.com, JAKARTA—Demam sepak bola di China, telah menarik minat liga-liga raksasa di Eropa untuk mengeruk cuan di negara dengan 1,4 miliar penduduk tersebut, tak terkecuali Liga Spanyol dan Liga Inggris.

Tak dapat dipungkiri, sepak bola kini terus tumbuh sebagai industri olahraga yang paling menguntungkan di dunia. Di sisi lain, kuatnya perekonomian China yang dibarengi oleh tingginya tingkat kegemaran penduduknya pada sepak bola, telah menjadi magnet tersendiri bagi para pelaku di industri tersebut untuk mengeruk keuntungan di negara ini.

Pemerintah China bahkan telah menetapkan tujuan nasionalnya untuk mengembangkan olahraga sebagai salah satu motor perekonomian nasional pada 2025. Anggaran senilai 5 triliun yuan (US$730 miliar) telah disiapkan untuk menunjang ambisi tersebut, dengan sepak bola sebagai intinya. Tidak heran jika China menjadi salah satu target pasar paling menjanjikan untuk industri sepak bola dewasa ini.

Sergi Torrent, perwakilan pengelola Liga Spanyol (La Liga) di China mengakui bahwa ada celah begitu besar bagi perusahaannya untuk meraup cuan di negara tersebut. Terlebih Liga Spanyol saat ini menjadi liga paling banyak ditonton di China bersama dengan Liga Inggris.

Kedua liga kasta tertinggi Eropa tersebut ada di bawah Liga Super China (CSL) yang popularitasnya kini tengah naik pesat karena banyaknya pemain dan pelatih terkenal asal Eropa yang hijrah ke negara tersebut.

“Sasaran utama kami dalam jangka pendek adalah menjadi yang paling laris kedua di China, sebab saat ini sulit merebut popularitas CSL. Dan dari sisi bisnis, kami melihat hanya ada satu slot untuk menjadi yang paling populer kedua di China,” kata Torrents seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (26/6/2017).

Pernyataan Torrents tersebut secara otomatis mengindikasikan bahwa La Liga harus berjuang mengalahkan popularitas Liga Primer Inggris untuk menjadi yang paling populer kedua secara mutlak di China. "Sebab peringkat ketiga akan memberikan tingkat ketertarikan yang sangat terbatas, dan yang jika menempati posisi keempat sebaiknya lupakan saja," katanya.

Upaya La Liga untuk mengalahkan Liga Primer Inggris di China sendiri tampak cukup agresif. Hal itu terbukti dari langkah La Liga untuk mendirikan kantor cabangnya di Shanghai. Liga tersebut juga secara rutin mengirimkan sekitar 50 pelatih setiap tahun ke negara tersebut sebagai bagian dari kesepakatan dengan Kementerian Pendidikan China.

La Liga juga kerap kali  mengadakan coaching clinic untuk anak-anak. Dalam waktu dekat, pengelola liga tersebut akan membuat acara televisi khusus di China tentang La Liga. "Kuncinya adalah memiliki aktivitas yang terkait dengan penduduk lokal sebanyak mungkin," lanjut Torrents.

Data Bloomberg menyebutkan penduduk China tercatat menyumbang pendapatan sekitar US$50 juta per tahun kepada La Liga. Adapun, total pendapatan La Liga di seluruh dunia mencapai 2 miliar euro (US$2,2 miliar) per tahun.

Namun, upaya La Liga mengungguli Lig Primer Inggris tersebut tampaknya tak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya Liga Primer Inggris telah menemukan mitra bisnis yang tepat saat ini, terutama dalam hal mendistribusikan siaran pertandingan.

Super Sports Media (SSM) telah menyetujui kontrak dengan Liga Inggris untuk menyediakan tayangan pertandingan gratis dan berbayar. Untuk tayangan gratis, SSM menjalin kerja sama dengan CCTV 5, yang merupakan satu-satunya saluran televisi nasional yang tak berbayar.

Liga Inggris juga memiliki tim media sosial di China yang sangat kuat, meski hingga saat ini belum memiliki rencana untuk mendirikan sebuah kantor cabang permanen di negara tersebut.

Jerman dan Prancis

Keberhasilan Liga Spanyol dan Liga Inggris di China ikut menarik minat dari pengelola liga kasta tertinggi Eropa lainnya, seperti Liga Jerman dan Liga Prancis.

Pada April lalu, sebuah saluran televis swasta China PPTV bahkan setuju untuk membayar hak siar Liga Jerman selama 5 tahun senilai US$272 juta.

Sementara itu, meskipun tingkat kepopuleran Liga Prancis tak terlalu tinggi di China karena penontonnya tak lebih dari 10.000 orang. Pengelola liga tersebut telah mengikuti langkah Liga Spanyol dengan mendirikan kantor perwakilan di China. "China adalah satu-satunya negara di dunia yang menjadikan sepakbola sebagai prioritas nasional dan negara ini memberikan peluang bagi kami," kata Romuald Nguyen, perwakilan Liga Prancis di China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sepak bola

Sumber : bloomberg

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top