SEPAKBOLA MALAYSIA: Marak Geng Pengacau, Atur Skor dan Penghinaan

Geng pengacau, pengaturan skor, dan penghinaan di lapangan menjadikan Malaysia menjadi "anak nakal" dalam persepakbolaan Asia, dimana olahraga paling populer di negara tersebut berubah menjadi aib nasional.
Martin Sihombing | 12 September 2015 07:58 WIB
Pelatih tim nasional Malaysia Dollah Salleh mencatatkan hasil terburuk dalam sejarah sepak bola Malaysia - Reuters

Bisnis.com, KUALA LUMPUR -  Geng pengacau, pengaturan skor, dan penghinaan di lapangan menjadikan Malaysia menjadi "anak nakal" dalam persepakbolaan Asia, dimana olahraga paling populer di negara tersebut berubah menjadi aib nasional.

Ulah para penggemar nakal yang menyalakan kembang api dan menyebabkan lapangan serta tribun penonton dipenuhi asap, telah mengakibatkan pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara timnas Malaysia melawan Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa (8/9/2015) terpaksa dihentikan.

Dipicu atas kekalahan 0-10 pada pertandingan sebelumnya di UEA, ledakan kemarahan para pendukung Malaysia membuat pertandingan tersebut berubah menjadi kekerasan, kecurangan, dan kekacauan.

Pakar sepak bola Malaysia mengatakan inti masalahnya terletak pada menurunnya performa permainan karena ketidakpatuhan administrasi sepak bola selama bertahun-tahun dan kegagalan dalam mengembangkan bakat yang berasal dari "akar rumput".

Tetapi faktanya tidak selalu begitu.

Diwarisi gairah sepak bola oleh mantan penjajah kolonial Inggris, "Harimau" Malaysia pernah menjadi sumber kebanggaan.

Bintang-bintang klub dan timnas dirayakan sebagai pahlawan selama era keemasan 1970-an dan 1980-an saat Malaysia mampu bersaing dengan raksasa sepak bola Asia pada saat itu seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia, meskipun tidak pernah memenangkan Piala Asia atau memenuhi syarat Piala Dunia.

"Kami berdiri di garis depan persepakbolaan pada saat itu. Tapi sekarang kami menjadi bahan tertawaan di seluruh Asia," ujar Peter Velappan yang menjadi Sekretaris Jenderal Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) tahun 1978-2007.

Timnas Malaysia telah anjlok ke peringkat 169 dalam ranking dunia FIFA, unggul satu peringkat dari prestasi terburuknya pada 2008, dan berada di bawah Timor Leste yang menempati peringkat 163, serta Bhutan yang menduduki nomor 164.

Mati Perlahan Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) kini menuai dekade kegagalan untuk membangun program pengembangan pemuda dan hilangnya lapangan bermain, kata mantan pejabat sepak bola, pelatih, dan penulis olahraga terkemuka.

"Kami dulu punya liga nasional yang sangat bagus, yang dapat mendorong sepak bola antarpemuda. Berkurangnya lapangan bermain mengakibatkan liga lokal mati secara perlahan," kata mantan jurnalis olahraga Tony Mariadass.

Roda politik dan perekonomian Malaysia dimotori dengan koneksi, perlindungan, dan sistem kroni.

Velappan mengatakan budaya tersebut sudah menjalari sepak bola dimana politik mempengaruhi profesionalisme administratif, kepemimpinan, dan keputusan pemain.

Akuntabilitas, bagaimanapun, adalah isu sensitif.

FAM selama 31 tahun dipimpin oleh tokoh-tokoh kerajaan dari negara bagian Pahang, salah satu dari sembilan negara bagian dengan raja Islam.

Hukum ketat yang mencegah kritik bagi kalangan kerajaan diyakini secara luas sebagai upaya untuk meredam tuntutan atas reformasi menyeluruh.

Namun, penggemar sepak bola tetap menunjukkan perasaan mereka.

Spanduk besar yang dipasang pada pertandingan Selasa lalu ditujukan untuk bos FAM dengan kalimat: "FAM, tidur selama 31 tahun".

Pembenahan budaya multikultural Malaysia juga pernah menjadi kekuatan dengan dukungan bintang-bintang lokal dari beragam etnis komunitas Melayu, Cina, dan India.

Namun, politik dalam negeri sektarian menyebabkan mayoritas masyarakat Melayu dipilih menjadi pemain timnas maupun klub.

"Sayangnya, polarisasi ras kini merayap ke sepak bola," kata Velappan.

Serang FAM Bencana 10-0 yang diderita Malaysia saat melawan UEA, menyusul skor imbang 1-1 dalam kualifikasi dengan Timor Leste dan kekalahan 6-0 dari Palestina.

Kekecewaan penggemar meledak karena di negara itu tidak ada olahraga lain sepopuler sepak bola dan FAM dianggap membiarkan prestasi sepak bola menurun.

Menteri Olahraga Malaysia Khairy Jamaluddin harus meminta maaf kepada Vietnam, Desember lalu, setelah pendukung Malaysia menyerang suporter Vietnam dalam semifinal Piala AFF.

FAM juga dikenai denda karena perilaku tercela suporter Malaysia dalam pertandingan persahabatan melawan Filipina pada Maret lalu, dan dalam liga domestik baru-baru ini dijumpai bentrokan antarsuporter yang membuat polisi harus menyelesaikannya dengan tembakan gas air mata.

Sementara itu, praktik pengaturan skor telah berulang kali terjadi dalam liga domestik di Malaysia.

Sebuah skandal tahun 1994 mengakibatkan 21 pemain dan pelatih dipecat, serta 58 pemain diskors, namun kasus baru kembali bermunculan.

Pada 2012, FAM menskors 18 pesepak bola muda dan menjatuhkan larangan seumur hidup bagi salah satu pelatih karena terlibat kasus pengaturan skor. Tahun berikutnya, salah satu klub sepak bola Malaysia menskors seluruh pelatih dan ofisialnya setelah diduga menyebabkan serangkaian kekalahan mencurigakan.

Saat ini FAM menghadapi ketidakpastian karena FIFA telah mengumumkan penyelidikan atas kekacauan dalam pertandingan Malaysia-UEA, dengan tuduhan mengarah pada penggemar militan yang dijuluki "Ultras Malaya" atas tindakan indisipliner mereka.

Khairy sendiri mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap FAM, termasuk kemungkinan suspensi sebagai tanggapan atas kekalahan 10-0 dan pernyataan Presiden FAM yaitu putra mahkota Pahang yang berencana akan "menyingkir" dari masalah tersebut.

Jika sepak bola Malaysia benar-benar direformasi, Ultras Malaya dapat mengklaim kemenangan mereka.

"Kami harus menyerang FAM di tempat yang paling menyakitkan," kata anggota Ultras Malaya, Fadli Awaludin kepada media Malaysia.

"Kami harus mempermalukan FAM agar memperoleh tanggapan dari mereka," ujarnya.

Sumber : ANTARA/AFP

Tag : sepakbola
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top