LIGA CHAMPIONS: Di balik kekalahan REAL MADRID

ULI HOENESS melihat kekalahan Bayern Munich saat ditelan Inter Milan di final Liga Champion tahun lalu sebagai kekalahan atas prinsip kehati-hatian perencanaan keuangan klub.
Puput Jumantirawan | 26 April 2012 07:35 WIB

ULI HOENESS melihat kekalahan Bayern Munich saat ditelan Inter Milan di final Liga Champion tahun lalu sebagai kekalahan atas prinsip kehati-hatian perencanaan keuangan klub.

 

Ketika itu, Bayern, yang terus mencetak laba bersih selama 10 tahun berturut-turut, dikalahkan Inter yang tahun itu telah mengoleksi kerugian hingga Euro1 miliar atau setara Rp12 triliun.

 

Maklum, Inter yang saat itu di bawah pelatih manajer The Special One Jose Mourinho—kini melatih Real Madrid—kalap dan memborong bintang-bintang besar seperti Wesley Sneijder dan Diego Milito.

 

Hoeness, yang menyimpan dendam atas kalahnya prinsip kehati-hatian perencanaan keuangan klub terhadap kekuatan modal itu, adalah presiden Bayern sejak November 2009.

 

Perlu diingat, klub asal Jerman baru sekali memenangkan Piala Champion dalam 11 tahun terakhir, yakni pada 2001 ketika Bayern membungkam Valencia 5-4 melalui adu penalti.

 

“Saya tak akan bahagia jika menang Piala Champion dalam situasi seperti itu,” kata Hoeness, yang melipatgandakan penjualan tahunan Bayern dari hanya Euro6 juta per 1979 menjadi Euro320 juta.

 

“Jika aku memenangkan Piala Champion, aku juga ingin untung,” kata lelaki yang juga mantan pemain nasional Jerman saat menjuarai Piala Dunia 1974 ini.

 

***

 

SEJALAN dengan kemenangan 2-1 Bayern terhadap Real pada leg pertama 18 April juga leg kedua 4-3 (plus penalti) tadi malam 26 April, prinsip kehati-hatian keuangan Bayern itu pun kembali bergema.

 

Memang, putaran final Liga Champion masih belum selesai karena Bayern harus bertemu lagi dengan Chelsea untuk di final nanti. Perjuangan belum selesai.

 

Akan tetapi, kemenangan Bayern yang diluar dugaan itu seolah menegaskan kembali prinsip kehati-hatian perencanaan keuangan klub, dan sekaligus menemukan momentumnya.

 

Momentum itu muncul karena pekan lalu, Liga Jerman baru saja meneken perjanjian hak siar dengan Sky Deutschland AG, jaringan televisi milik News Corp yang dikendalikan Rupert Murdoch.

 

Dalam perjanjian hak siar itu, porsi bagi hasil untuk Bundesliga naik menjadi 52% dengan nilai fantastis: Euro2,5 miliar untuk 4 tahun sampai 2017.

 

“Bagi Sky, itu pedang mata dua karena mereka bayar terlalu mahal,” kata Klaus Kraenzle, analis Silvia Quandt Research di Frankfurt. “Tapi bagi klub, itu mimpi yang jadi nyata.”

 

Deal itu akan menaikkan daya saing klub-klub Jerman di pentas internasional,” kata Phil Lines, mantan kepala divisi media Liga Inggris. “Itu lompatan besar bagi Bundesliga.”

 

***

 

DENGAN momentum itu, spektrum kemenangan Bayern atas Real Madrid di semifinal Liga Champions dengan sendirinya meluas bukan lagi sekadar di lapangan bola, tapi juga di lapangan yang lebih luas.

 

Momentum itu menunjukkan efek kontras yang nyata, karena di sisi lain, La Liga di Spanyol yang begitu superior dengan segudang pemain bintangnya, tengah menghadapi problem likuiditas yang kian parah.

 

Di tengah memburuknya situasi perekonomian Negeri Matador itu, klub-klubnya yang bertumpuk utang masih harus membayar mahal pemain seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

 

Dan sialnya, pengaruh buruk situasi perekonomian juga telah memaksa jaringan televisi lokal di Spanyol untuk menurunkan nilai bagi hasil atas hak siar yang diterima La Liga.

 

Tidak tanggung-tanggung, jaringan televisi lokal Spanyol mengancam hanya akan menawar kontrak hak siar separuh dari nilai kontrak yang sekarang, pada tender Juni nanti.

 

***

 

BUNDESLIGA memang menuntut klub-klub-nya untuk memiliki efisiensi operasi dan kinerja keuangan yang stabil. Yang menarik, klub juga dicegah menjual saham mayoritasnya ke investor asing.

 

Tak seperti di Liga Inggris, di mana dengan uangnya, konglomerat seperti Roman Abramovich atau Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan bisa membeli Chelsea atau Menchester City.

 

Tapi meski diatur dengan displin ketat dan kaku, liga Jerman toh tidak pernah kehilangan pemain-pemain berbakat yang juga punya reputasi internasional.

 

Sayap serbabisa Bayern Bastian Schweinsteiger atau pemain Borussia Dortmund Mario Goetze misalnya, untuk sekadar menyebut contoh.

 

Bundesliga juga menarik bintang-bintang lain seperti striker Belanda Klaas-Jan Huntelaar. Meski, tentu saja, dari sisi pendapatan hak siar internasional, Liga Jerman masih tertinggal.

 

Liga Inggris misalnya, beroleh tambahan BP1,4 miliar dari penjualan hak siar internasionalnya selama 3 tahun, jauh dibandingkan dengan Euro215 juta yang diterima Bundesliga tahun ini.

 

Memang, itu jumlah yang kecil. Namun, tak seperti Real Madrid atau Barcelona yang memiiki deal hak siarnya sendiri, di Jerman, hasil penjualan hak siar itu menetes ke semua klub.

 

Termasuk klub kecil seperti SC Freiburg di wilayah selatan Jerman. “Deal hak siar itu penting sekali, terutama untuk klub kecil seperti kami,” kata Rudi Raschke, Humas SC Freiburg.

 

SC Freiburg, klub kecil yang tak punya utang sama sekali ini, mendapatkan separuh dari total Euro36,7 juta anggaran tahunannya dari pendapatan hak siar.

 

“Tentu saja kami terkejut dengan deal Sky Deutschland yang membayar mahal itu. Jadi ini berita bagus untuk kami,” sambung Raschke. (Diolah dari Bloomberg) (bastanul.siregar@bisnis.co.id)

 

>> BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

+ Berita Utama Bisnis Indonesia Hari Ini

HEADLINES MEDIA Hari ini

+ Apple Panen Besar, iPhone Laris Manis

BCA Closes Units in MALAYSIA

BAKRIE Seeks US$100 Million Loan

Kecelakaan Maut di TOL LENTENG AGUNG

Dolar AS merosot

+ ANALYSTS SAY NORTH KOREA'S NEW MISSILES ARE FAKES

Tag :
Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top