LIGA SERI A: Enam resep kebangkitan JUVENTUS

 
News Editor | 10 April 2012 01:55 WIB

 

ROMA:  Bukan rahasia dan bukan sulap karena segala sesuatunya dapat dijelaskan secara rasional, termasuk alasan mengapa Juventus dapat bangkit dalam ajang Serie A di musim kompetisi tahun ini.

 

Kepala bidang kesehatan timnas Italia, Enricco Castellacci mengatakan Juventus mampu menjaga kebugaran para pemainnya.

 

Salah satu resep kebangkitan Juventus, yakni mengurangi sedapat mungkin para pemainnya mengalami cedera selama pertandingan, sebagaimana dikutip dari laman FootballItalia.

 

Di bawah pelatih Antonio Conte, Juventus mengklaim bahwa para pemain yang mengalami cedera mencapai lebih sedikit 60%  dibandingkan dengan 2010-2011 dan 80% lebih sedikit dibandingkan pada 2009-2010.Secara statistik, AC Milan tercatat tidak menurunkan pemainnya yang sedang cedera dalam 218 pertandingan sepanjang musim ini, notabene angka ini tertinggi dalam catatan Serie A.

 

Sementara Juventus tidak menurunkan pemainnya karena cedera dalam hitungan 40 laga saja, angka ini terendah dalam catatan Serie A.

 

Menulis di harian olah raga La Gazzeta dello Sport, ahli kebugaran timnas Italia itu memaparkan resep kebugaran dan kesehatan pasukan Bianconeri. Mereka mampu mengurus dan merawat kesehatan dengan memerhatikan pola asupan energi.

 

"Para pemain Juventus setelah mengalami penurunan di musim dingin, mereka kembali berlari, berlari dan berlari di babak pertama dan babak kedua sampai menit akhir pertandingan," katanya.

 

"Kami membandingkannya dengan Inter dan Napoli pada April ini. Asupan energi mereka mulai menurun saat mereka mengalami kelelahan. Mereka mampu tampil di setiap pertandingan jika memang mereka siap dengan asupan energi yang memadai," katanya juga.

 

Resep kebangkitan Juventus, boleh dibilang bervariasi:

 

Pertama, ada pengaruh "efek Conte". Ia tampil sebagai pelatih yang trengginas yang tertantang untuk meningkatkan ketangguhan dan kekokohan tim sebagai tim. Ia mengombinasikan antara energi mental dengan energi fisik sebagai kekuatan tim.

 

Kedua, Juve tergolong sebagai tim yang tidak terlalu banyak bertanding di ajang Liga Champions. Mereka mampu menjaga kebugaran karena lebih sedikit melakoni pertandingan dan cenderung kurang mengidap kelelahan emosional. Mereka selektif memilih ajang kompetisi.

 

Ketiga, para pemain Juve sedikit sekali mengalami cedera. Mereka tergolong mudah ditangani tim medis dan fisioterapis.

 

Keempat, Juve relatif mudah melakukan rotasi pemain. Ini langkah yang tergolong luar biasa karena mengaitkan kondisi psikologis pemain. Rotasi pemain taruhannya bukan main-main. Pemain dapat terkena cedera otot.

 

Kelima, penerapan latihan atletik. Porsi latihan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari persiapan tim Bianconeri secara keseluruhan. Latihan atletik telah menjadi kewajiban dari persiapan sebuah tim sepak bola.

 

Juventus juga mempercayai kalkulasi yang logis dari setiap persiapan latihan, mencakup pertimbangan-pertimbangan dari sisi psikologis masing-masing pemain.

 

Hasilnya kemudian dibawa dan menjadi bagian tak terpisahkan dari porsi latihan keseharian.

 

Keenam, kondisi kamp latihan dengan tingkat kelembapan yang memadai bagi kesehatan dan kebugaran pemain. (Antara/ea)

Sumber : Newswires

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top